Observasi Mahasiswa UIN Walisongo atas Masjid Jami Pekojan, Semarang Hubungannya Dengan Jamaah Tabligh

Sebagai bagian dari Tugas Kuliah, di Fakultas Hukum Ekonomi Islam UIN Walisongo Semarang, Millatur Rofiah melakukan observasi atas kegiatan Jamaah Tabligh di Masjid Jami Pekojan, Semarang. Hasilnya secara ringkas dituturkan di bawah ini.

LATAR BELAKANG
Sebagai umat Islam kita wajib mengesakan Allah. Akan tetapi, dengan melihat kenyataan yang ada dalam kehidupan di dunia ini, apa yang diciptakan Allah semua adalah bentuk kasih sayang-Nya terhadap manusia, tanpa mengenal golongan, warna kulit, ras, dan agama. Allah memberikan anugerah yang luar biasa kepada makhluk di muka bumi ini. Firman Allah dalam Q.S Ad-Dzariyat ayat 56 disebutkan bahwa tujuan manusia diciptakan oleh Allah adalah agar beribadah kepada-Nya. Nabi Muhammad S.A.W pernah bersabda yang intinya bahwa umatku akan pecah menjadi 73 golongan dimana yang selamat hanya satu golongan saja yaitu golongan ahlusunah wal jamaah. Belakangan banyak sekali bermunculan gerakan Islam yang mengatasnamakan golongan ahlusunah wal jama’ah. akan tetapi mengapa mereka memiliki ajaran-ajaran yang sifatnya membedakan dengan golongan yang lain, walaupun semuanya mengakui sebagai ahlusunah wal jama’ah. Untuk itulah mari kita lihat salah satu dari golongan yang kami bahas yaitu jamaah tabligh yang pusatnya di Masjid Pekojan yang ada di daerah semarang ini tepatnya di JL.Petolongan No.1 Semarang, Lalu bagaimana lika-liku ataupun segala sesuatu yang berkaita dengan kelompok ini akan kami paparkan dalam makalah ini.

APA DAN SIAPA JAMAAH TABLIGH?
Jamaah Tabligh (“Kelompok Penyampai”) (bahasa Urdu: تبلیغی جماعت, bahasa Arab: جماعة التبليغ, juga disebut Tabliq) adalah gerakan transnasional dakwah Islam yang didirikan tahun 1926 oleh Muhammad Ilyas di India. Kelompok Penyampai ini bergerak mulai dari kalangan bawah, kemudian merangkul seluruh masyarakat muslim tanpa memandang tingkatan sosial dan ekonominya dalam mendekatkan diri kepada ajaran Islam sebagaimana yang dibawa oleh nabi Muhammad.
Jama’ah tabligh adalah jama’ah yang mengembalikan ajaran Islam berdasarkan Al’quran dan hadits. Nama Jama’ah Tabligh merupakan sebutan bagi mereka yang sering menyampaikan, sebenarnya usaha ini tidak mempunyai nama tetapi cukup Islam saja tidak ada yang lain. Bahkan Muhammad Ilyas mengatakan seandainya aku harus memberikan nama pada usaha ini maka akan aku beri nama “gerakan iman”. Ilham untuk mengabdikan hidupnya total hanya untuk Islam terjadi ketika Maulana Ilyas melangsungkan Ibadah Haji kedua-nya di Hijaz pada tahun1926. Maulana Ilyas menyerukan slogannya, ‘Aye Musalmano! Musalman bano’ (dalam bahasa Urdu), yang artinya ‘Wahai umat muslim! Jadilah muslim yang kaffah (menunaikan semua rukun dan syari’ah seperti yang dicontohkan Rasulullah)’. Tabligh resminya bukan merupakan kelompok atau ikatan, tapi gerakan muslim untuk menjadi muslim yang menjalankan agama secara sempurna, dan hanya satu-satunya gerakan Islam yang tidak memandang asal-usul mahdzab atau aliran pengikutnya.Dalam waktu kurang dari dua dekade, Jamaah Tabligh berhasil berjalan di Asia Selatan. Dengan dipimpin oleh Maulana Yusuf, putra Maulana Ilyas sebagai amir/pimpinan yang kedua, gerakan ini mulai mengembangkan aktivitasnya pada tahun 1946, dan dalam waktu 20 tahun, penyebarannya telah mencapai Asia Barat Daya dan Asia Tenggara, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara. Sekali terbentuk dalam suatu negara, Jamaah Tabligh mulai membaur dengan masyarakat lokal. Meskipun negara barat pertama yang berhasil dijangkau Tabligh adalah Amerika Serikat, tapi fokus utama mereka adalah di Britania Raya, mengacu kepada populasi padat orang Asia Selatan disana yang tiba pada tahun 1960-an dan 1970-an.
Jamaah ini tidak menerima donasi dana dari manapun untuk menjalankan aktivitasnya. Biaya operasional Tabligh dibiayai sendiri oleh pengikutnya.Tahun 1978, Liga Muslim Dunia mensubsidi pembangunan Masjid Tabligh di Dewsbury, Inggris, yang kemudian menjadi markas besar Jama’ah Tabligh di Eropa. Pimpinan mereka disebut Amir atau Zamidaar atau Zumindaar.

KARAKTER JAMAAH TABLIGH
Visi utama dari Jamaah Tabligh adalah mengajak kaum muslimin untuk kembali pada Islam serta memurnikan tauhid mereka. Secara praktik, gerakan yang mereka lakukan adalah melalui pendekatan personal, face to face, direct selling, mengetuk rumah demi rumah untuk beribadah di masjid, dan seterusnya. Jamaah Tabligh tidak menggunakan pendekatan ekonomi, sosial, maupun politik seperti halnya gerakan lainnya. Hal paling signifikan dari Jamaah Tabligh adalah aktivitas yang mereka sebut khuruj, yakni keluar daerah untuk berdakwah selama beberapa waktu. Mereka menggunakan masjid sebagai basis gerakannya. Saat khuruj mereka mengunjungi masjid demi masjid. Seseorang bisa merantau ke luar daerah selama 3 hari, 30 hari, 4 bulan, dan seterusnya tergantung kesiapannya untuk melakukannya. Selain mengajak warga yang mereka kunjungi untuk belajar dan beribadah, mereka juga rutin melakukan mudzakaroh atau pengajian rutin secara berkala ketika khuruj tersebut.
Masyarakat awam mengidentifikasi anggota jamaah tabligh melalui penampilan mereka, dengan sorban, janggut panjang, celana gantung, serta gamis, ataupun rompi. Kaum wanita pada umumnya jarang yang ambil bagian sehingga representasi mereka dinilai dari kaum prianya.

Sistem Perekrutan Anggota Baru Jamaah Tabligh Dilakukan oleh anggota jamaah tabligh yang sedang Khuruj di satu tempat tujuan dengan perbekalan yang sudah dipersiapkan sebelumnya dan berpusat di Masjid yang disinggahi. Satu tim ini berjumlah maksimal 14 orang sedangkan jumlah idealnya 12 orang, apabila timnya merupakan sepasang suami istri, maka maksimal 7 pasang, minimal 4 pasang. Masing – masing anggota peranan sendiri diantaranya ada yang menjadi ketua tim (amir) dan sebagainya. Dalam serangkaian kegiatan khuruj,mereka menawarkan kepada masyarakat agar ikut rombongan dakwah tanpa unsur paksaan.Apabila ada seseorang yang ingin bergabung,mereka menunjukkan markas kegiatan di Kabupaten atau di Kecamatan, tanpa mendapat kartu anggota dan sejumlah persyaratan lainnya.Selanjutnya diharapkan mengikuti kumpulan setiap malam jumat guna membahas masalah-masalah dakwah untuk bisa melakukan khuruj sesuai dengan kemampuan waktu dan biaya yang dimiliki,biasanya 3 hari untuk khuruj di wilayah lokal saja sedangkan 40 hari atau 4 bulan untuk khuruj di Luar daerah.
Aktifitas dakwah jama’ah Tabligh diantaranya Ijtima (kumpulan) setahun sekali.Bagi yang mampu diharapkan khuruj ke poros markas pusat (India-Pakistan-Bangladesh), kegiatan di markas kecil adalah musyawarah mingguan dan sebulan sekali khuruj selama tiga hari biasanya dipimpin oleh seorang Amir. Setelah berdakwah kemudian laporan kemarkas kecil selanjutnya kemarkas regional dan diteruskan kemarkas besar atau nasional dan terakhir dilaporkan kemarkas internasional.

MASJID JAMI PEKAYON SEMARANG
Masjid Jami’ Pekojan berdiri di atas tanah seluas 3.515 M2, dengan luas bangunan asli seluas 16 M2. Masjid ini didirikan di atas tanah wakaf dari Khalifah Natar Sab asal Gujarat, wilayah India. Tidak diketahui kapan pertama kali bangunan ini berdiri. Sebelum menjadi bangunan masjid seperti saat ini, bangunan aslinya adalah mushola kecil dan pemakaman umum untuk warga sekitar yang mewakafkan tanah untuk tempat ibadah.
Di tangan kepengurusan Akuan (seorang keturunan Gujarat), masjid ini mengalami kemajuan. Pada tahun 1305 H oleh keluarga Akuan masjid ini dipugar diganti dengan bangunan yang lebih kokoh dengan lantai marmer dan sebagian dinding dilapisi keramik yang konon didatangkan dari Cina. Pada perkembangannya di daerah tersebut makin lama makan ramai. Sampai saat ini masih dapat dilihat beberapa makam di sekitar masjid yang nisannya mempunyai nama maupun tanpa nama. Ada satu makam yang di waktu tertentu banyak dikunjungi oleh para peziarah, yaitu makam Syarifah Fatimah binti Sayed Husain bin Ahmad al Idrus. Dia adalah penyebar agama Islam atau pendakwah putri yang wafat pada 5 Jumadil Akhir 1290 H. Selain sebagai penyebar agama, Syarifah Fatimah juga sangat dikenal sebagai penyembuh. Sayangnya beliau wafat dalam usia yang masih muda.
Di samping makam Syarifah Fatimah terdapat pohon Bidara, yang konon berasal dari negeri Gujarat. Pohon ini tergolong unik, karena diyakini hanya ada di lingkungan masjid alias idak ditemukan di daerah lain. Pohon ini dapat tumbuh dengan sendirinya tanpa harus disemai. Karena jika disemai pohon ini dapat tumbuh lalu tidak lama kemudian mati dengan sendirinya. Pohon ini juga memiliki manfaat yang sangat banyak. Buahnya yang rasanya sedikit asam dan manis diyakini dapat mengobati sakit perut. Daunnya bisa digunakan untuk memandikan/melemaskan mayat yang kaku,selain untuk menghilangkan bau tak sedap dari mayat.
Setiap bulan Ramadan, masjid ini juga mengadakan kegiatan yang sama dengan masjid yang lain. Yang spesial adalah menu berbuka puasanya. Sejak dulu sampai sekarang menu yang disajikan adalah bubur putih dari beras yang dicampur santan kelapa dengan lauk sambal goreng, buahbuahan dan kurma, dengan minuman kopi susu/susu coklat. Setiap hari Kamis, menu berbukanya adalah bubur putih dengan lauk gule kambing. Yang menarik, bubur dibuat dalam dandang besar yang terbuat dari tembaga yang bentuknya cukup unik, Dimasak mulai sehabis Dhuhur dan selesai setelah Ashar.

BAGAIMANA TANGGAPAN MASYARAKAT
Tanggapan masyarakat terhadap berdirinya Masjid pekojan dan jama’ah tabligh.
Sebagian besar mereka menanggapi positif dengan kegiatan–kegiatan yang di adakan oleh masjid pekojan itu, juga mereka mengaku senang dengan pendekatan yang di lakukan oleh jama’ah tabligh yang di anggap sopan dan melalui pendekatan langsung.
“sangat berpengaruh sekali dengan adanya jamaah tabligh di daerah sini, karena sekarang masjid ini banyak penghuninya (ramai) selain itu masjid ini juga menarik para jamaah dengan budaya yang unik” ujar bapak Safi’i salah satu jamaah majid pekojan.

KESIMPULAN
Berdasarkan Observasi yang telah saya lakukan di masjid pekojan semarang yang terkenal dengan sebutan kampung pekojan, karena di dalamnya terdapat pemukiman orang-orang yang berbudaya india, Jama’ah tabligh di sana di sambut dengan tanggapan positif karena jamaah tabligh melakukan pendekatan secara langsung dan lembut, sehingga mudah di terima.
Masjid pekojan juga sering di kunjungi karena keunikan masjid itu sendiri, juga karena budaya india yang masih kental di daerah pemukiman tersebut.

SARAN
Demikian uraian yang dapat saya sampaikan dalam makalah observasi ini. Tentunya makalah observasi ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan untuk pembelajaran pembuatan makalah selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: