Tulisan Republika Tentang Jamaah Tabligh

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Ada sesuatu yang unik memasuki Masjid Kebon Jeruk di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Kota. Di masjid yang sudah berusia lebih dua abad ini, kita akan menjumpai ratusan jamaah yang hampir seluruhnya berjenggot. Mereka juga menggunakan serban, pakaian takwa dan peci putih, yang biasa dipakai umat Islam di Indonesia. Tapi kita juga akan mendapati jamaah yang memakai surban dengan baju panjang sampai lutut, untaian tasbih atau tongkat di tangan, janggut berjenggot, dahi hitam, dan aroma minyak cendana, khas jamaah dari Asia Timur.

Di masjid ini, jamaah datang dari berbagai negara. Setelah Shalat Magrib bersama, para jamaah yang dikenal dengan sebutan Jamaah Tabligh ini dengan tekun mendengarkan ceramah yang disampaikan seorang ustaz. “Di sini tidak bicara politik, juga tidak bicara materi, dan tidak bicara masalah-masalah khilafiah,” kata H Syaifuddin, anggota Jamaah Tabligh dari Bali saat berbincang dengan saya.

Sebelumnya, ketika mengambil wudhu di toilet yang terdapat di samping masjid tertulis kata-kata: “Dilarang buang air kecil dengan berdiri”. Seperti dikemukakan mereka, cara berpakaian, bersikap, bertutur kata, dan solidaritas antara umat Islam, benar-benar meniru sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Meneladani persaudaraan seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dengan para sahabat beliau, keramahtamahan antara jamaah sangat tampak sekali. Jamaah tabligh yang memiliki pengikut di 215 negara, dan persaudaraan di antara mereka sangat kuat. Di sini, tidak dikenal strata sosial. Seorang jenderal, artis, dokter, bahkan konglomerat sekalipun, makan dalam satu nampan bersama dengan empat atau lima orang lainnya. Seorang jenderal purnawirawan mantan menteri di era Soeharto yang belakangan tergabung dengan jamaah masjid ini pun, tak canggung makan dalam satu hidangan bersama ikhwan lainnya.

Termasuk dengan mantan preman yang telah bertobat dan memilih untuk mengabdi kepada agama melalui Jamaah Tabligh. “Di sini tidak ada jamaah yang diistimewakan,” ujar Syarifudin. Di ruangan bagian belakang masjid, sekitar 100 jamaah tengah membahas rencana kegiatan dakwah yang akan mereka lakukan di berbagai tempat dan masjid di tanah air. Bahkan ada di antara mereka ada yang menawarkan diri untuk dakwah keliling dunia. Perjalanan semacam ini biasanya berlangsung 40 hari. Sedangkan di tanah air, dalam pertemuan itu, para jamaah spontan mengajukan diri untuk berdakwah di berbagai tempat.

Kemudian oleh pimpinan pertemuan mereka dibagi-bagi ke beberapa lokasi kegiatan. Ada yang hanya di Jakarta, tapi ada juga yang ke Sumatra, Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Untuk tugas ini, para anggota rela untuk tinggal di masjid-masjid. Makan dan minum semuanya dari kocek mereka sendiri.

“Kita ikhlas melakukan ini semua karena dunia ini kan hanya sementara. Sedangkan akhirat selama-lamanya. Sayangnya banyak orang yang terkecoh dengan gemerlapannya dunia, lupa akhirat dan lupa berdakwah,” kata salah seorang di antara jamaah, yang juga karyawan sebuah perusahaan multinasional. Lalu bagaimana dengan izin perusahaan karena tugas dakwah ke daerah maupun luar negeri itu?

Menurut Syarifuddin, sejauh ini tidak ada masalah. “Kami umumnya sudah meminta izin cuti di luar tanggungan kantor.”

Sementara Umar, mahasiswa yang tinggal di kawasan Ciputat mengatakan kepada Republika.co.id tentang prinsip hidupnya. “Segala perbuatan harus benar-benar ikhlas karena Allah. Yang berbuat baik, tapi tidak ikhlas, dia akan merugi. Apalagi yang berbuat jahat. Untuk ini, saya harus banyak bersilaturahim pada ikhwan-ikhwan kita,” katanya. Bagaimana besarnya Jamaah Tabligh, pernah dilaporkan Republika.co.id ketika menghadiri Ijtima para jamaah di sisi sungai Tongi, Dakka, Bangladesh, 18-21 Januari 2002.

Ijtima yang menjadi tempat berkumpulnya para jamaah Tabligh ini diadakan tiap tahun. Dari Indonesia, yang datang berasal dari berbagai profesi, antara lain pimpinan pondok pesantren, pengusaha muda, eksekutif muda, artis, pedagang kaki lima, pegawai negeri, dan bupati. Almarhum Gito Rollies adalah salah seorang di antaranya. Ijtima itu dihadiri kurang lebih empat juta orang dari lebih 100 negara. Ajang di Bangladesh ini telah menjadi kegiatan internasional. Sedang di Indonesia, acara serupa pernah diadakan di Medan, Lampung, dan Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: