Menyedihkan: Desa Muslim Dengan 4 Gereja

Ali Murtadzo (29), belakangan ini gelisah. Kalau tidak segera dicegah, di atas tanah sebelah Taman Kanak Kanak Az Zaitun di Dusun Tanjungsari, Desa Wawasan, Lampung Selatan, bakal berdiri sebuah Balai Latihan Kerja (BLK). Bukan hanya suara berisik BLK yang ia khawatirkan akan mengganggu aktivitas Az Zaitun yang diasuhnya, melainkan misi di balik BLK tersebut.

“BLK itu akan dikelola Lembaga Dana Atmajaya, yang selama ini melakukan misi penginjilan di Desa Wawasan,” ungkap Ali Murtadzo. Tanah yang hendak dipakai untuk mendirikan BLK adalah hasil penyitaan atas utang warga kepada LDA yang tidak terbayar, senilai Rp 7 juta.

Lembaga Dana Atmajaya (LDA), menurut catatan Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat (Kaur Kesra) Desa Wawasan, Suhadi, masuk ke desa Muslim ini sejak 1997. Di tengah kemiskinan warga transmigran asal Jawa, mereka melakukan diakonia. Yaitu menyebarkan Injil melalui kegiatan sosial, seperti bantuan peternakan, pertanian, dan bantuan renovasi rumah tinggal.

Aksi LDA in sebenarnya menyalahi konsensus Genewa pada 30 Mei 1976, yang disepakati wakil Kristen dan Islam. Konsensus Genewa, merumuskan kode etik penyebaran agama, antara lain:

“Bahwa kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan tidak pada tempatnya untuk dimanfaatkan bagi keperluan penyebaran agama. Maka harta, kesempatan kerja, kesempatan pendidikan, dan pesta anak-anak muda hendaknya jangan dipergunakan untuk usaha Kristenisasi, artinya melalui Diakonia, yaitu penyalahgunaan pelayanan masyarakat dan sikap tidak toleran orang-orang Kristen terhadap Islam.”(Thohir Luth, M. Natsir, Dakwah dan Pemikirannya, Jakarta, GIP, 1999, hlm. 122).

Namun, gerakan LDA di desa terpencil semakin liar. Hasilnya, luar biasa. Warga Nasrani di desa yang terletak 2 km dari kebun karet PTPN VII ini, jumlahnya melejit. Jika pada 1970-an mereka hanya terdiri 8 KK dengan 30 jiwa, kini sudah mencapai 150-an KK dengan 500-an jiwa.

Selain keluarga mereka sendiri beranak-pinak, peningkatan jumlah itu juga lantaran banyak warga Muslim yang murtad. “Mereka murtad karena hutang budi, atau lewat pernikahan,” kata Suhadi, sambil menyebut beberapa keluarga besar di desanya yang sudah murtad.

Bahkan, komunitas Nasrani berhasil menjadikan kader mereka sebagai kepala desa pada pemerintahan periode sebelum ini. Tak heran bila perkembangan perkabaran Injil sangat pesat karenanya.

Walaupun mereka hanya 10% dibanding jumlah total warga yang 90% Muslim, tapi hebatnya mereka punya 4 gereja dan 6 sekolah. “Gereja itu semuanya ada di Dusun B (Dwijaya). Sedangkan di tiap dusun Wawasan yang berjumlah empat dusun, mereka punya sekolah playgroup,” tutur Suhadi, sambil menambahkan bahwa LDA juga mengelola TK dan SMA Bintang Timur.

Kaget bukan kepalang Ali Murtadzo, ketika kembali ke kampung halamannya pada tahun 2000. Putra Wawasan ini tadinya nyantri di Ponpes Raudhatus Sholihin, Lampung Tengah. Ghirah keislamannya mendidih menyaksikan pemurtadan dahsyat menimpa warga desanya.

Mengajak sejumlah tokoh warga yang masih memiliki ghirah, Ali Murtadzo segera berkonsultasi ke Dewan Da’wah Propinsi Lampung di Bandar Lampung.
Alhamdulillah, dengan dukungan Dewan Da’wah, kini di Wawasan sudah berdiri taman kanak-kanak (raudhatul athfal) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Az Zaitun.

“Demi keselamatan anak dan keluarga saya, saya pindahkan anak saya dari Bintang Timur ke Az Zaitun yang dikelola Ustadz Ali Murtadzo. Walaupun untuk ke Az Zaitun, kami dari rumah mesti menempuh jarak 3,5 km,” tutur Suhadi.
Warga juga gotong royong membeli lahan seluas 600 m2, yang kemudian diwakafkan kepada Dewan Da’wah untuk dibangun masjid. Alhamdulillah, pada 26 Juni 2009 (3 Rajab 1430 H), pembangunan masjid Al Anshor dimulai.

Dewan Da’wah melalui Ketua Dewan Da’wah Propinsi Lampung, H Nazir Hasan, menyerahkan dana pembangunan masjid sebesar Rp 100.000.000. Sedangkan Bupati Lampung Selatan, H Wendy Melfa, SH., M.H, memberikan bantuan sebesar Rp 10.000.000.

Kini, di seluruh Wawasan ada 2 masjid dan 13 mushola. Namun, warga Muslimnya masihlah sangat awam. Sementara, generasi belianya dijadikan obyek penginjilan secara ugal-ugalan.

“Walaupun dari keluarga Muslim, tapi anak-anak yang bersekolah di Bintang Timur pasti hafal berdoa dengan cara Kristen. Sementara mereka sama sekali tidak tahu doa-doa Islam,” ungkap Suhadi prihatin.

Salah satu jurus klasik mengajarkan Kristen pada anak, adalah praktek berdo’a. Anak-anak Muslim diminta memejamkan mata, lalu berdoa kepada Allah minta permen. Ternyata, permen tidak datang. Lalu mereka diminta berdo’a sambil memejamkan mata kepada Tuhan Yesus. Ternyata, kali ini permen datang (dari guru).
Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun!

“Ini tantangan kita bersama. Kita harus lebih ikhlas, keras, dan cerdas, dalam berdakwah,” ucap Ahmad Yani, pakar kristologi Dewan Da’wah Lampung tatkala menerima Ustadz Murtadzo di Kantor Dewan Da’wah Bandar Lampung, Sabtu (16/1).
Dalam rangka itu pula, Dewan Da’wah Lampung akan menggelar Diklat Dai se-Propinsi Lampung, untuk lebih memakmurkan masjid-masjid Dewan Da’wah di propinsi ini yang jumlahnya mencapai 57 buah. (nurbowo)

2 Tanggapan

  1. sungguh memprihatinkan..
    semoga Allah selalu melindungi dan menjaga saudara2 kita dari pemurtadan..

  2. saran sumbang fikir. kirim rombongan-rombongan dakwah ke kampung tsb dan hidupkan amalan maqomi / amalan mesjid nabawi dan kampung madinah seperti di jaman Rasulullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: