Kiamat…Kiamat….

oleh : K.H. Muhammad Ihya Ulumuddin
Kalaulah sebagian orang mendekat kepada agama, itu karena pelarian dan kejenuhan dari arus materialisme. Zaman makin akhir. Hari kiamat kian dekat. Isyarat-isyarat mengenai akhir zaman yang disampaikan Rasulullah saw. kian hari kian terbukti dan nyata. Tanda-tanda dekatnya hari kiamat berupa fenomena keburukan-keburukan dan keterbalikan- keterbalikan kian tampak jelas di sekitar kita bahkan menimpa kita. Apa yang harus kita lakukan? Sikap apa yang harus kita kembangkan? Mengenai tanda-tanda hari Kiamat, Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya di antara tandatanda qiamat adalah bila ilmu diangkat, kebodohan eksis (tetap berlangsung), khomer diminum, dan zina mewabah.(H.R. Bukhari).

Hadits ini menjelaskan bahwa di antara tanda-tanda dekatnya hari Kiamat adalah diangkatnya ilmu. Tidak sekedar ilmu karena di akhir zaman, ilmu justeru berkembang pesat. Tapi ilmu yang diangkat dan dilenyapkan adalah ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu yang mengantarkan seseorang pada ketundukan dan kepatuhan kepada Allah swt. Indikasi diangkatnya ilmu yang mulia ini adalah diwafatkannya ulama-ulama yang bertakwa, ikhlas, dan mendalam ilmunya karena merekalah sumber ilmu yang benar. Pada saat yang sama, kebodohan merajalela. Tidak sekadar bodoh, tapi bodoh terhadap ilmu-ilmu agama dan ilmu tentang penghambaan kepada Allah swt. Dan oleh karena ilmu diangkat dan kebodohan merajalela, masyarakat menjadi mengabaikan hukum-hukum Allah swt. Khamer dengan segala jenisnya seperti narkoba serta perzinaan yang menjadi indikasi kerusakan masyarakat akhirnya mewabah dimanamana dan bisa jadi terang-terangan.

Tentang tanda-tanda dekatnya hari kiamat yang lain, sahabat Abdullah bin Mas?ud ra. menceritakan dalam sebuah hadits mauquf: ?Bagaimana dengan kalian bila kalian diselimuti fitnah. Anak kecil tumbuh menjadi dewasa di dalam fitnah itu. Orang tua pun menjadi pikun di dalamnya. Dan fitnah itu dijadikan tuntunan. Jika suatu hari fitnah itu dirubah (oleh seseorang), dikatakan: ?Ini orang keluar dari kebiasaan (baca: nyeleneh). Kapan hal itu terjadi? Yaitu ketika orang-orang yang dapat dipercaya di antara kalian menjadi sedikit. Pejabat-pejabat menjadi banyak. Orang-orang yang mendalam ilmunya menjadi sedikit. Suatu ilmu diperdalam tidak untuk (kepentingan) agama. Dan ketika dunia dicari dengan menggunakan amal akhirat. (H.R. Abdurrazzaq). Hadits ini menerangkan datangnya fitnah (gangguan atau kerusakan beragama) mengiringi dekatnya hari kiamat. Anak-anak tumbuh dan dididik dengan fitnah itu semenjak kecil hingga dewasa. Mereka tidak mengenal jatidiri kebenaran. Mereka terdidik di atas penyimpangan fithrah kebenaran. Orang-orang tua pun menjadi pikun alias tidak ingat lagi mana kebenaran dan mana kebatilan akibat terjangan fitnah itu. Keadaan baur dan kacau. Fitnah yang buruk itu malah dijadikan tuntunan. Tontonan menjadi tuntunan dan tuntunan menjadi tontonan. Anak lebih kenal televisi daripada sejarah atau madzhab Imam as-Syafi?i. Kalaulah sebagian orang mendekat kepada agama, itu karena pelarian dan kejenuhan dari arus materialisme. Bila ada sebagian orang tergerak untuk merubah fenomena buruk ini, aneh, orang-orang yang baik-baik ini justru dikatakan sebagai orang yang nyeleneh alias tidak biasa (asing). Keadaan buruk ini terjadi ketika orangorang yang dapat dipercaya (amanat) semakin sedikit. Susah mencari orang jujur. Yang dominan justru orang-orang yang luntur prinsipnya. Khianat. Idealisme makin mahal. Suka berubahubah sikap. Cenderung melanggar janji. Bertipe laksana amir (pejabat dan penguasa). Korup dan sewenangwenang. Stok orang-orang yang faqih (yang mendalam ilmunya di bidang agama) menipis. Sebaliknya yang banyak adalah orang-orang yang kosong ilmu tapi berbunyi nyaring. Iya, banyak yang mencari dan menekuni ilmu, tapi bukan ilmu agama, melainkan ilmu-ilmu lain (yang tidak dihubungkan dengan agama) dalam rangka mengejar aspek keduniaan. Orang susah memasukkan anaknya ke pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan Islam. Sementara sekolah-sekolah dan tempattempat kursus yang menjanjikan materi pendaftarnya membeludak. Orang berbangga dengan ilmu non-agama, sedang dengan ilmu agama rendah diri.

Kalaupun ada sebagian yang bergumul dengan ilmu-ilmu agama dan aktivitasaktivitas akhirat, visi dan misi di dalamnya rusak. Mereka memanfaatkan ilmu-ilmu agama dan aktivitas-aktivitas akhirat itu untuk mencari dunia. Lihai bicara agama, tutur katanya halus, memikat, enak didengar, namun apa yang ada di lidahnya berbeda dengan yang tersimpan di dadanya. Susah mencari orang yang lugu, polos, dan apa adanya. Rasulullah saw. bersabda: ?Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan terhadap kalian sepeninggalku kelak adalah orangorang munafiq yang alim lidahnya. (H.R. Ahmad) Dan banyak lagi fenomena-fenomena buruk lainnya sebagai pertanda dekatnya hari kiamat yang saat ini justru menjadi realitas kehidupan kita sehari-hari.

Realitas-realitas buruk tersebut tidak semestinya menjadikan kita pesimis. Kita menjadi menyerah (istislam) dengan keadaan. Kita menjadi surut dalam beramal, dalam mencari ilmu, dan dalam melakukan dakwah amar makruf nahi munkar. Kita berpangku tangan melihat berlangsungnya realitas-realitas buruk tersebut. Ini tidak boleh terjadi, karena beramal, mencari ilmu, dan berdakwah adalah kewajiban yang orang muslim laki-laki dan perempuan diperintah melaksanakannya, kapan dan di mana saja, sesuai dengan batas maksimal kemampuan masing-masing. Kita, umat Islam, adalah orang-orang yang mukallaf (diberi beban hukum) oleh Allah swt.

Kita diperintahkan untuk menyelamatkan diri kita dan keluarga kita dari api nereka. Kita memilik hak wiqoyah (hak berlangmenjaga) terhadap diri dan keluarga kita. Bagaimana supaya kita dan mereka tidak masuk ke dalam neraka. Firman Allah swt.: Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (Q.S. at- Tahrim: 6) Dan kelak kita semua akan dimintai laporan pertanggungjawabannya. Bagaimana suami mengarahkan isteri. Bagaimana isteri mengatur rumah suami. Bagaimana suami-isteri mengelola rumah tangga dan mendidik anak-anaknya. Semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Sabda Rasulullah saw.: ?Orang laki-laki menjadi penggembala atas keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban. Orang perempuan menjadi penggembala atas rumah suaminya dan dia juga akan dimintai pertanggungjawaban.(H.R. Bukhari) Dalam riwayat yang lain disebutkan: ?Orang perempuan menjadi penggembala atas rumah suaminya sekaligus atas anak suaminya. (H.R. Mundziri).

Pendek kata, tidak ada sikap menyerah terhadap keadaan. Amal-amal yang bagus dan benar seperti ibadah, mencari ilmu, dan berdakwah, sekuat kemampuan kita, tidak boleh surut dan luntur dalam keadaan apapun. Betapa pun dunia rusak serusak-rusaknya, umpamanya, kebenaran dan kebaikan harus kita tegakkan. Dan tanggung jawab ini kelak akan dimintai laporannya. Ada dosa dan pahala di dalamnya. Jalan yang lempang di zaman akhir yang dipenuhi berbagai fitnah dan keburukan-keburukan ini adalah kita mencari murobbi. Sekali lagi murobbi, yaitu guru yang memiliki kapasitaskapasitas: 1) ilmu, 2) makrifat (kesadaran diri), 3) ketawadhu?an, 4) amaliah (mempraktikkan ilmunya), dan 5) takwa. Murobbilah kekayaan berharga (al-kanzu) dalam kehidupan sekarang ini. Manakala kita menemukan murobbi seperti itu gigitlah dia dengan gigi geraham. Rengkuhlah dia. Jangan dilepaskan. Pepatah mengatakan: “Laulal murabbi maa araftu rabbi“. Seandainya tanpa murabbi/pembimbing, niscaya aku tidak tahu Tuhanku. Wallahu a?lam bisshowab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: