Naudzubillah: Konflik Sesama Salafi di Milis MyQuran

Assalamualaikum,

Beginilah akibat dari dakwah yg tidak mengikuti ahlaqul karimah Rosulullah SAW, yang terjadi adalah saling hujat dan kebencian. Semoga ini menjadi pelajaran dalam dakwah kita sehari-hari dg tetap mengedepankan akhlaqul karimah dalam dakwah.

Wassalam,

Abu Izza Adduri

Beda Salafus Shalih dengan Khawarij Modern

Sebelumnya mohon maaf kepada ikhwan akhwat pengunjung MyQ jika akhir-akhir ini saya aktif memposting tulisan-tulisan. Sementara waktu saya perlu menghujani para Khawarij ‘alal haqiqah itu dengan apa yang mereka rindukan. Saya anggap, Abu Google Jahalah (pemilik Fakta blogsome) sudah “menggunting pita”, tanda dimulainya “sesuatu”. Ya, tantangan manusia rusak ini tak layak diabaikan.

Saya sudah baik-baik “bersembunyi” di balik nama At Thalibi, biar perseteruan pendapat yang ada tidak berlangsung terbuka, cukup antar kita-kita saja. Tapi rupanya, orang-orang sesat itu menghendaki yang tertutup biar terbuka. Ya sudah, kita buka-bukaan saja. Saya komitmen untuk melawan kesesatan berpikir ini, sampai saat datangnya ajal, ‘ala masyi’atillah wa bi nashrihil Karim.

Antara pemikiran Liberal dan Khawarij, saya tidak membedakannya. Mereka sama buasnya terhadap Islam dan kaum Muslimin. Jika para Liberaliyun menyerang Islam dari luar, maka Khawarij modern ini menyerang Islam dari dalam. Lihatlah mereka, Khawarij Rabi’iyun itu, agenda hidupnya adalah melawan misi gerakan-gerakan Islam yang komitmen dengan Syariat Islam.

Pada dasarnya mereka tidak mengikuti manhaj Salafus Shalih, selain klaim yang penuh kepalsuan. Berikut sekian bukti-bukti bahwa Khawarij Rabi’iyun itu tidak serupa dengan Salafus Shalih:

1. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) ketika di Makkah, beliau menyerang sesembahan orang-orang musyrikin, beliau menghancurkan konsepsi ibadah jahiliyah ala orang-orang musyrikin Quraisy. Orang-orang Makkah sangat kewalahan, sampai berkali-kali mengirim utusan dan menawarkan fasilitas-fasilitas untuk melunakkan hati Nabi. Saking marahnya, mereka membuat makar untuk membunuh Rasulullah (Saw). Jadi, dakwah tauhid saat itu benar-benar hebat; konfrontasi antara tauhid dan kemusyrikan sangat hitam-putih. Meskipun disana sifatnya baru konfrontasi dakwah, belum konfrontasi kekuatan fisik. Baru setelah di Madinah, Rasulullah (Saw) diijinkan konfrontasi fisik.

Lalu lihatlah para Khawarij ini! Mana dakwah tauhid mereka? Mana konfrontasi mereka terhadap kemusyrikan? Tidak ada, atau sangat sedikit sekali. Kalau hati mereka peka dengan tauhid, hidupnya tidak akan tenang melihat kemusyrikan merebak dimana-mana. Omong kosong mereka mendakwahkan tauhid. Jauh, jauh, jauh sekali. Dengan mengajarkan Kitabut Tauhid mereka merasa telah “segala-galanya” dalam dakwah tauhid. Kalian itu tidak ada apa-apanya dibandingkan Tuanku Nan Renceh, Haji Miskin, Haji Piobang, Imam Bonjol, dll. rahimahumullah.

2. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) di Makkah, mereka rela mengalami berbagai intimidasi, perlakuan keras, bahkan diboikot sampai tiga tahun, demi membela kalimat Laa Ilaha Illallah. Bahkan Khadijah Al Kubra (Ra), isteri tercinta Nabi, wafat dalam perjuangan penuh kesabaran, hingga harta benda beliau habis untuk membela Islam.

Adapun para Khawarij ini justru bermesraan, memuji-muji, bahkan mendoakan regim sekuler yang sebenarnya tidak Islami. Alasannya, taat kepada ulil amri. Mungkin, para Khawarij di Amerika sana juga menyerukan ketaatan murni kepada regim George Bush.

3. Rasulullah (Saw) mengutus Mush’ab bin Umair (Ra) untuk berdakwah ke kaum Aus dan Khajraj di Madinah. Beliau berdakwah penuh bijaksana, hingga ketika Saad bin Mu’adz (kalau tidak salah) hendak menghalangi dakwahnya, beliau berkata dengan lembut, “Tidakkah sebaiknya Anda duduk dulu, dengarkan apa yang saya sampaikan. Kalau yang saya sampaikan baik, terimalah. Tetapi kalau yang saya sampaikan buruk, saya akan berhenti.” Begitu pula ketika Rasulullah (Saw) mengutus Mu’adz bin Jabal (Ra) ke Yaman, beliau berpesan agar Mu’adz berdakwah secara bertahap. Mula-mula disuruh mengajarkan kalimat Laa ilaha illallah, lalu menyuruh shalat, lalu menyuruh membayar zakat.

Adapun Khawarij ini sama sekali tidak bijaksana. Dalam dakwahnya, manhaj mereka adalah mengajarkan kebencian, permusuhan, dan pertikaian antar satu Muslim dengan lainnya. Boro-boro mau bijaksana seperti kaum Salaf, mereka malah merusak citra Salafus Shalih itu sendiri.

4. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) mereka membela Islam bukan hanya dengan ilmu, akidah, ibadah, dan akhlak. Mereka juga membela Islam dengan pedang (al jihad). Ada sejarawan yang mengatakan selama hidupnya Rasulullah (Saw) terlibat 80 kali peperangan. Mungkin maksudnya, termasuk ekspedisi-ekspedisi perang kecil yang beliau perintahkan. Hadits-hadits tentang jihad Nabi ini sangat banyak. Para Imam hadits rata-rata membuat bab tersendiri disana.

Lalu bagaimana dengan para Khawarij ini? Na’udzubillah wa na’udzubillah. Mereka benar-benar telah sesat dari jalan lurus. Seluruh amal-amal jihad yang dilakukan kaum Muslimin di jaman ini, meskipun sifatnya jihad defensif, mereka kecam habis-habisan. Dalam buku MAT itu Luqman Ba’abduh mencela habis-habisan jihad Ummat Islam. Perjuangan almarhum Kartosoewiryo, Relawan Kompak Dewan Dakwah di Ambon, Komandan Ibnul Khattab di Chechnya, mujahidin Afghanistan, sampai-sampai Hamas, Syaikh Yasin, dst. tidak selamat dari lidah api mereka.

5. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) menegakkan Syariat Islam, menegakkan negara Islami, melindungi Islam dan Ummat dengan Pemerintahan Islami. Hingga ketika Rasulullah (Saw) wafat, para Shahabat lebih mendahulukan mengurus kepastian kepemimpian setelah Nabi, dari mengurus jenazah beliau. Artinya, urusan kepemimpinan Islami itu sangat-sangat penting dan prioritas. Dari jaman ke jaman Ummat Islam melindungi agama dan Ummatnya dengan penegakan Syariat Islam, bahkan dalam konteks Daulah Islam maupun Khilafah Islamiyyah.

Namun sangat aneh dengan para Khawarij ini. Mereka justru sangat memusuhi gerakan-gerakan dakwah yang berjuang menegakkan Syariat Islam. Gerakan-gerakan Islam mereka tuduh sebagai Hizbiyun yang wajib untuk dicela, dimusuhi, disesatkan, diahli-bid’ahkan, ditahdzir, bahkan diboikot. Saya tidak mengerti, atas dasar apa kita menyebut mereka Salafi atau Salafiyun? Justru kalau kebencian mereka kepada gerakan dakwah Islam sudah sedemikian mengkristal di hati dan mengendap di dasar otak, jangan-jangan mereka telah murtad tanpa disadari. Seperti kata Nabi, “Yamruquna minad dini kama yamruqu as sahmu minr ramiyyah” (mereka melesat dari agama ini seperti anak panah melesat dari busurnya).

6. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) membangun peradaban Islam secara menyeluruh. Beliau melibatkan Para Shahabat dengan kemampuan dan spesialis apapun untuk mendukung peradaban Islam. Ada yang terlibat di bidang ilmiyah, ada yang terjun di dunia bisnis, ada yang mengerjakan administrasi, ada yang memelihara hadits-hadits Nabi, ada yang terjun di kemiliteran, ada yang menangani urusan intelijen, ada ahli bahasa, ada pendakwah, ada penyair, ada petani, dst. Nabi (Saw) benar-benar membangun Islam secara kaaffah, seperti yang diminta oleh Pembuat Syariat Islam (Allah Ta’ala).

Namun di tangan Khawarij jaman modern, segalanya jadi berubah. Mereka membenci urusan dunia, mendoktrin pengikut-pengikutnya untuk “belajar din saja”, tidak mau tahu urusan masyarakat, membenci masalah politik, tidak tahu perkembangan ekonomi, informasi, budaya, dst. Bahkan di Ma’had Daarul Hadits Syaikh Muqbil di Yaman, disana tidak ada listrik, rumah-rumah dari tembok tanah, tidak tersentuh teknologi. Padahal Islam hancur justru ketika urusan-urusan dunia diserahkan kepada orang-orang fasik, zhalim, kafir, bahkan musyrik.

7. Rasulullah (Saw) menjaga keutuhan Ukhuwwah Islamiyyah di antara Para Shahabat (Ra) dan Ummat Islam. Beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar; beliau menjalin ikatan kekeluargaan dengan Shahabat-shahabat utama seperti Abu Bakar As Shiddiq (Ra), Umar bin Khattab (Ra), Utsman bin ‘Affan (Ra), Ali bin Abi Thalib (Ra), dan lainnya; Nabi mendamaikan pertikaian antara kaum Aus dan Khajraj; Beliau mendamaikan perselisihan antara Bilal bin Rabbah (Ra) dan Abu Dzar Al Ghifari (Ra); Beliau tidak bersikap keras kepada Abdullah bin Ubay, pemimpin kaum munafik, untuk menjaga perasaan orang-orang Madinah pengikutnya; Beliau bersikap lembut kepada pembesar-pembesar Makkah yang mengikuti Perang Hunain, untuk melunakkan hatinya; Beliau memaafkan Ahlul Makkah, khususnya Abu Sufyan dan Hindun, meskipun mereka dulu sangat banyak menyakiti hati beliau; dan seterusnya. Lihatlah Nabi sangat-sangat menjaga keutuhan Ummat, persaudaraan Islam, hingga beliau tidak mau membongkar fondasi Ka’bah, karena khawatir Ummat Islam saat itu belum siap.

Tetapi kaum Khawarij Rabi’iyun ini amal “jihad akbar” mereka justru mematahkan Ukhuwwah Islamiyyah, menyuburkan pertikaian antara sesama Muslim, mengobral penghinaan, pelecehanan, membongkar aib-aib Muslim, merusak kehormatan para dai, menghancurkan nama baik lembaga-lembaga Islam. Kalau ditanya, siapakah mereka? Aku tak ragu untuk mengatakan, bahwa mereka adalah musuh-musuh Islam. Mereka bukan pengikut Salaf, tetapi penghina Salaf.

8. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) menegakkan akhlakul karimah dalam segala lapangan hidup mereka. Oleh karena itu Islam disebut sebagai agama Rahmatan lil ‘alamin. Bahkan akhlak Nabi disebut oleh Aishyah (Ra), “Khalquhul Qur’an” (akhlak beliau ya Al Qur’an itu sendiri). Ketika Abdullah bin Rawahah (Ra) diutus Nabi untuk mengatur pembagian jatah hasil kebun di Khaibar dengan kaum Yahudi, beliau hendak disuap orang Yahudi agar mengubah proporsi pembagiannya. Namun beliau menolak tegas dan menyebut orang-orang Yahudi sebagai makhluk yang paling beliau benci. Orang-orang Yahudi justru kagum dan mengatakan, “Dengan inilah (keadilan seperti ini) ditegakkan langit dan bumi.”

Entahlah, apa lagi yang harus dikatakan tentang Khawarij ini. Mereka tidak bisa berakhlak mahmudah, selain hanya dengan kaumnya sendiri. Ya bagaimana akan berakhlak mahmudah, mereka sudah menghalalkan hak-hak Muslim yang telah dijamin oleh Syariat Islam? Sikap keras, mahal senyum, keji mulut, memfitnah, berdusta, menghina, membongkar aib-aib, mengkhianati amanah, bahkan memboikot sesama Muslim.

Saya masih ingat, Irfan Bastian itu dulu telah berjanji akan menyimpan data-data tentang saya. Tetapi kemudian dia khianati, hingga data-data privacy kami tersebar di dunia maya. Tetapi orang itu juga pernah bercerita tentang aib-aib Abu Hamzah Al Atsari (ustadz begituan di Bandung), yaitu berkaitan dengan sumber penghasilan dia, lalu Irfan meminta saya tidak menceritakan hal ini kepada orang lain. Ya, saya tetap menjaga amanah dia, insya Allah dan tidak akan memberitahukan kepada yang lain.

9. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) adalah manusia-manusia yang lembut hati. Mereka mudah rujuk kepada kebenaran yang telah tampak di depan matanya. Nabi (Saw) pernah masam ketika dating Abdullah bin Ummi Maktum (Ra), lalu beliau bertaubat atas hal itu. Beliau juga pernah berusaha mengajak Abu Thalib masuk ke dalam Islam, lalu beliau ditegur oleh Allah. Beliau pernah hendak mengharamkan madu, namun mencabutnya lagi. Abu Dzar (Ra) pernah berguling-guling dalam tanah, sebagai upaya meminta maaf kepada Bilal (Ra). Ka’ab bin Malik (Ra) dan kedua Shahabat (Ra) yang tertinggal dari perang Tabuk bertaubat dari kesalahannya, setelah bumi yang luas terasa sesak bagi mereka. Umar bin Khattab (Ra) jatuh terduduk dan menangis tersedu-sedu, ketika menyadari bahwa Rasulullah (Saw) benar-benar wafat. Umar (Ra) ketika menjadi Khalifah tidak menolak diluruskan dengan pedang, diluruskan oleh Ummu Aiman (Ra), diluruskan oleh seorang ibu, bahkan diluruskan oleh seorang gembala yang mengatakan, “Fa’ainallah” (kalau begitu, dimana Allah?). Meskipun dalam kasus terakhir itu, Khalifah Umar (Ra) hanya ingin menguji rakyatnya. Inilah kelembutan hati manusia-manusia yang tunduk kepada kebenaran.

Adapun di hadapan kaum Kharijiyun ini, apa lagi yang hendak dikatakan? Susah, susah sekali mengajak mereka kepada kebenaran. Kita memberikan nasehat, masukan, pandangan, atau bantahan, seperti apapun, mereka tidak akan terima. Biarpun kita datangnya ayat-ayat Al Qur’an, Sunnah, Sirah, atau perkataan ulama, sulit sekali mengajak mereka rujuk kepada kebenaran. Mereka tidak akan rela tunduk kepada siapapun, sebab IZZAH-nya melarang tunduk kepada al haq. Tetapi, kalau datang wejangan dari Syaikh Rabi’, Syaikh Ubaid Al Jabiri, atau Syaikh Muqbil, tidak usah menunggu lama, mereka akan berhimpun di sekitar wejangan itu dengan penuh semangat dan rasa kehausan. Jangankan kita-kita, lembaga sebesar Rabithah ‘Alam Islamipun dituduh Ikhwani dan tidak ditengok mereka. Bahkan, bukan sekali dua kali saya mendengar, mereka melecehkan Jami’ah Islamiyyah di Madinah (Universitas Madinah). Sesumbar mereka, “Ilmu kan tidak hanya di Madinah, di Yaman juga banyak ilmu.” Apalagi Al Azhar, mungkin sudah tidak ada bentuknya di mata mereka.

10. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) adalah ahlut tauhid, manusia terbaik komitmennya terhadap Tauhidullah. Mereka disebut “Khairu Ummah ukhrijat lin naas”. Komitmen Salafus Shalih dalam tauhid ini tidak diragukan lagi. Umar bin Khattab (Ra) pernah mencium Hajar Aswad sambil mengatakan, bahwa batu itu tidak bisa memberi manfaat atau madharat. Jika bukan karena Umar (Ra) pernah melihat Nabi mencium Hajar Aswad, maka beliau tidak akan melakukannya. Khalid bin Walid (Ra) juga demikian. Beliau telah terlibat dengan banyak peperangan, hingga suatu ketika ketika masih berkecamuk Perang Yarmuk melawan Romawi, tiba-tiba datang surat dari Madinah (Khalifah Umar) agar beliau diganti Shahabat lain. Khalid (Ra) tidak marah atas tindakan itu, sebab kata beliau, dirinya beribadah kepada Allah, bukan kepada Umar. Sama halnya ketika Saad bin Abi Waqash (Ra) memimpin pasukan mujahidin untuk meruntuhkan Kisra Persi, beliau tertahan oleh Sungai Tigris yang dalam dan lebar. Saad (Ra) tidak peduli, beliau memerintahkan pasukannya menerjuni Sungai itu dengan kalimat “Hasbunallah wa nikmal Wakiil”. Dan mereka mampu menyeberangi Sungai Tigris tanpa ada kerugian sedikit pun. Orang-orang Persia sendiri takjub melihat penampilan para mujahidin. Mereka tampak sederhana, kurus-kurus, perlengkapan senjata seadanya, tetapi keberanian dan rasa percaya diri mereka siap melumat Kisra Persia.

Khawarij jaman modern, kemana-mana lidahnya tidak lepas mengatakan, “Salafi, dakwah Salaf, manhaj Salaf, ittiba’ Salafus Shalih, dst.” Seolah merekalah pewaris sah Dakwah Salafiyah. Tetapi nyatanya, mereka beragama karena “takut ustadz”, karena “takut syaikh”, karena “takut teman-teman”. Nasehat-nasehat tidak mereka acuhkan, meskipun dari Al Qur’an dan Sunnah. Demi Allah, jika para pemuda Islam beragama karena “takut ustadz” seperti itu, bukan tauhid murni, seperti yang diajarkan Salafus Shalih, kalian akan hina di dunia dan Akhirat nanti. Bukankah Al Qur’an sudah mengatakan bahwa tauhid itu laksana al ‘urwatul wutsqa (tali ikatan yang sangat kuat), sedangkan sesembahan selain Allah adalah laksana baitul ankabut (rumah laba-laba).

Nah, demikian tentang sebagian bukti-bukti bahwa kaum KBS (Khawarij Berbaju Salafi) itu telah menyimpang dari jalan Salafus Shalih. Mereka adalah kaum yang menodai dan melecehkan kehormatan Salafus Shalih, serta menyimpang dari jalan yang lurus. Walhamdulillah Rabbil ‘alamin. Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 3 Mei 2008.

Al Faqir Ila Rabbil ‘alamiin.

Abu Muhammad Waskito.

bapak AMW dari paparan2 artikel bapak saya sependapat dengan bapak dengan julukan “salafy khariji” ,

namun pendapat Syeikh Omar Bakrie Muhamad :

Syaikh Albani : Salafy irji
Syaikh Utsaimin : Salafy irji
Syaikh Ibn Baz : Kafiir, Kharij ‘an millah

pengikut2nya bisa awam bisa sama kedudukannya

bisa dijelaskan ikhtilaf ustadz AMW dengan syaikh Omar bakriee dalam julukan murjiah atau khawarij kepada mereka
terima kasih

salam

Syaikh Omar Bakrie Muhammad (yang mantan pimpinan HT Inggris) dan mantan pemimpin Al-Mouhajirun, memang berpaham takfiri. Di mata seorang takfiri, bahkan ahlus sunnahpun akan dianggap sebagai irja’i.

So, tidak perlu didengarkan lah Syaikh Omar itu. Apalagi kalau beneran beliau menuduh Syaikh Bin Baz (rahimahullah) kafir.

أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ

“Mana-mana lelaki yg berkata kepada saudaranya ‘wahai si kafir’, maka panggilan itu akan kembali kepada salah satunya jika ia seperti apa yg dikatakan. Tetapi jika tidak, maka panggilan itu akan kembali kepada yg mengucapkannya”[1]

وَمَنْ دَعَا رَجُلًا بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلَّا حَارَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa menuduh seseorang dengan kekafiran atau dia berkata: ‘Wahai musuh Allah’, padahal orang yg dipanggil tidak sedemikian, maka tuduhan tersebut kembali kepadanya”[2]

وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ

“Barangsiapa yg menuduh seorang mukmin dengan kekafiran, dia seolah-olah membunuhnya” [3]

[1] Hadis riwayat Muslim (1/ 195/no. 92)
[2] Hadis Muttafaq ‘alaih
[3] Hadis riwayat Bukhari (5640).

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Apa yang Antum sampaikan itu perkara berat, menyangkut kedudukan para Kibarul Ulama alam Islamy, sementara kita-kita ini….haahh…gak ada artinya dibandingkan mereka. Kita ini masih sangat “krucuk” dibandingkan mereka. Ya Allah ya Rabbi, aku memohon jauhkan diriku dari kelancangan yang tidak pantas dilakukan oleh orang-orang berakal. Allahumma amin.

Saya akan merespon sepengatahuan saya, wallahu a’lam bisshawaab:

Pertama, Syaikh Omar Bakri tadinya tokoh Hizbut Tahrir di Libanon. Lalu pindah ke Saudi, memulai dakwah HT dengan berpusat di Kuwait. Tapi gerakan dia tidak disukai pimpinannya di Kuwait, lalu dia berpisah jalan. Dia juga bergerak bersama para ikhwan Salafi Saudi. Ujungnya, dia membentuk jamaah Al Muhajirun. Di situs al muhajirun ada biografi lengkapnya. Maaf kalau disini ada kesalahan informasi.

Kedua, Syaikh Omar Bakri Muhammad (sering disingkat Syaikh OBM) termasuk yang mengkafirkan Daulah Su’udiyyah, dengan alasan: Kerajaan Saudi membuka kerjasama dengan Amerika, di bidang militer, intelijen, ekonomi, dan lainnya. Bukti nyatanya, ialah markas militer Amerika di Kota Dahran, Saudi. Sebagai konsekuensinya, ulama resmi Kerajaan Saudi, termasuk Syaikh Bin Baz dianggap ikut mendukung “thaghut” (sebutan untuk regim Saudi yang kerjasama dengan Amerika). Otomatis statusnya kafir juga. Kata mereka. Na’udzubillah min dzalik.

Ketiga, Syaikh OBM menuduh ulama-ulama besar, Bin Baz, Al Utsaimin, Al Albani, dan lainnya sebagai ulama Murji’ah, dengan alasan, mereka toleran terhadap pelaksanaan hukum selain Syariat Islam di negeri-negeri Muslim. Seolah berlaku atau tidaknya Syariat Islam itu tidak penting, boleh berlaku, boleh tidak. Nah, keyakinan seperti itu mirip dengan paham Murji’ah yang menganut keyakinan, “Iman tidak bertambah dengan amal shalih, begitu pula maksiyat tidak mengganggu keimanan.” Jadi, imannya flat (datar), tidak naik, tidak turun, karena amal-amal.

Setahu saya, wallahu a’lam bisshawaab, yang kencang dituduh Murji’ah itu Syaikh Al Albani dan murid-murid beliau. Tetapi itu pun masih diperdebatkan. Ada yang sepakat ada yang tidak. Kalau Syaikh Bin Baz, Syaikh Al Utsaimin, atau Kibarul Ulama Saudi pada umumnya, tidak dituduh ke arah itu.

Soal Syaikh OBM menuduh mereka Murji’ah, ini saya kira hanya penghakiman saja, bukan berdasarkan alasan-alasan ilmiah yang bisa diperhitungkan. Sama seperti Usamah bin Ladin ketika menyerukan “jihad global” melawan Amerika, aspek-aspek ilmiahnya tidak akurat. Kalau akurat, Ummat Islam sedunia akan merespon dengan amalan. Jadi, itu sebatas move-move yang lebih bersifat politis.

Keempat, tentang tuduhan orang-orang ekstrem itu sebagai Khawarij, sebenarnya saya bukan yang pertama mengemukakan hal itu. Dr. Abdul Karim Al ‘Aql, seorang guru besar aqidah di Saudi, juga pernah mengingatkan orang-orang ghuluw itu dengan alasan yang sama. Kurang lebih beliau mengatakan, “Jangan-jangan mereka seperti yang disifati Rasulullah (Saw) sebagai kelompok yang memerangi Ummat Islam dan mendiamkan ahlul autsan (penyembah berhala).” Hanya saya, menambahkan alasan-alasan sesuai yang saya ketahui, wallahu a’lam bisshawaab.

Mungkin Antum sudah tidak asing dengan tuduhan yang dialamatkan kepada orang-orang ekstrem itu, “Kepada para dai mereka seperti Khawarij. Kepada penguasa/amir, mereka seperti Murji’ah.” Sangat mungkin ada beberapa bid’ah sekaligus yang berkumpul disana. Bahkan sejatinya, Khawarij jaman dahulu, mereka memberontak kepada penguasa. Kalau jaman sekarang justru bermesaraan.

Bid’ah berkumpul dalam satu waktu, itu sangat mungkin. Seperti orang Syi’ah jaman sekarang, mereka mengaku pengikut Ahlul Bait dan sekaligus penempuh jalan shufi.

Wallahu a’lam bisshawaab.

AMW

Bismillaahir Rahmaanir Rahiimi

Alhamdulillaah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shallallaahu ‘alahi wa sallam, keluarganya, para shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga hari kiamat…

Amma ba’du…

Pembaca Myquran, saya bingung melihat tulisan-tulisan AMW, di sisi lain dia mengkritik (salafy ekstrem)*. Alasannya karena salafy ekstrem suka menganggap kelompok di luarnya sesat dsb.

Namun, ironisnya saya malah mendapati Saudara AMW inilah yang mungkin lebih banyak memberikan gelaran kepada salafy ekstrem dengan berbagai gelaran yang “penuh dengan lemah lembut” versi AMW. Wallaahu A’lam…
Gelaran yang disebutkan oleh AMW adalah sebagai berikut:
1. Salafy Yamani (ini merupakan istilah yang pertama kali dicetuskan)
2. Salafy Ekstrem (mungkin ini yang kedua kalinya dicetuskan)
3. Salafy Yamani=Salafy Ekstrem= plek sama LDII
4. Seperti nomor 3. = seperti Syiah di nahrawan.
5. Seperti JIL bedanya (katanya) kalau salafy ekstrem menyerang Islam dari dalam
6. Seperti Khawarij (istilah yang dicetuskan adalah Khawarij Berbaju Salafy)
7. Salafy Rabi’iyun
8. Dst. Wallaahu A’lam…..masih menunggu julukan apa lagi yang dicetuskan…..

Bismillaahir Rahmaanir Rahiimi

Alhamdulillaah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shallallaahu ‘alahi wa sallam, keluarganya, para shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga hari kiamat…

Amma ba’du…

Pembaca Myquran, saya bingung melihat tulisan-tulisan AMW, di sisi lain dia mengkritik (salafy ekstrem)*. Alasannya karena salafy ekstrem suka menganggap kelompok di luarnya sesat dsb.

Maksud saya menyesat-nyesatkan Ahlus Sunnah secara tidak bertanggung-jawab. Misal, hanya menulis di blog, di forum, di situs miliknya, di majalah, di buku, dst.

Tetapi alasan penyesatan itu tidak jelas, tidak Syar’i, selain “ilmu” qala wa qila. Bahkan sudah main-main fitnah disana.

Afwan, kita boleh saja menyesatkan orang lain, misalnya Ahmadiyyah, Syi’ah, LDII, dst. tetapi harus berdasarkan hujjah yang nyata, dan berani berhadapan-hadapan dengan mereka untuk mujadalah dalam mempertahankan argumentasi.


Saya mau tanya ke Antum, apa alasan kelompok Antum menyesatkan Ikhwanul Muslimin? Saya mau tahu aja. Kita nanti akan melihat apakah cara menyesatkannya tepat atau tidak. Itu satu contoh kasus.

Kutip


Namun, ironisnya saya malah mendapati Saudara AMW inilah yang mungkin lebih banyak memberikan gelaran kepada salafy ekstrem dengan berbagai gelaran yang “penuh dengan lemah lembut” versi AMW. Wallaahu A’lam…


Ya, itu sekarang, atau katakanlah sejak munculnya DSDB 1. Lalu kelompok Antum sendiri bagaimana dengan sebutan yang macam-macam itu, tablighi, ikhwani, sururi, quthbi, aqlaniyun, hizbi, khariji, bahkan teroris? Antum ingat gak, siapa yang lebih dulu “fashih” disini?

Kutip


Gelaran yang disebutkan oleh AMW adalah sebagai berikut:
1. Salafy Yamani (ini merupakan istilah yang pertama kali dicetuskan)


Menurutku saat ini, gelar Salafy Yamani itu masih sangat halus, mulia.

Kutip


2. Salafy Ekstrem (mungkin ini yang kedua kalinya dicetuskan)

Ini sebagai awalan, sebelum saya masuk ke istilah Khawarij.

Kutip


3. Salafy Yamani=Salafy Ekstrem= plek sama LDII


Jangan gunakan Salafy Yamani lagi, terlalu bagus.

Salafy ektstrem, masih ada “Salafy”-nya.

LDII, mirip di sifat, meskipun beda di jasad.

Kutip


4. Seperti nomor 3. = seperti Syiah di nahrawan.


Mungkin yang tepat, Khawarij di Nahrawan.

Kutip


5. Seperti JIL bedanya (katanya) kalau salafy ekstrem menyerang Islam dari dalam

Kalau benar-benar sifatnya seperti KBS itu, ya saya menyikapi mereka seperti menyikapi orang liberal.

Kutip


7. Salafy Rabi’iyun


Maksudnya, fanatikus Syaikh Rabi’, tetapi mengaku-ngaku sebagai Salafi.

Kutip


8. Dst. Wallaahu A’lam…..masih menunggu julukan apa lagi yang dicetuskan…..

Intinya sih sifat-sifat Khawarij saja. Rabi’iyun itu kan terhubung dengan marja’ syaikhiyyah mereka. KBS itu pilihan yang tepat. Salafy ekstrem, hanya pintu masuk saja. Salafy Yamani, sudahlah lupakan istilah ini, tidak tepat. Wallahu a’lam bisshawaab.

Mohon jangan melihat istilah-istilah begininya, nanti cepat mual. Tapi lihat alasan-alasan di balik itu.

AMW

Masya Allah,
Mas AMW banyak sekali mencontohkan akhlak Rasulullah, namun apa mas sudah gunakan akhlak beliau, yang mana beliau SAW tidak akan pernah terusik sedikitpun bila keberadaan pribadinya diganggu bahkan dilukai, beda kalau masalah agama, beliau mencabut pedang “Sampai kalimat Tauhid ditegakkan”,
Memang cukup berat hantaman itu menimpa,
seperti sebuah rumah yang habis diterjang tornedo,
setelah luluh lantah, antum sendiri berusaha membakar puing-puing yang tersisa.
Sementara mereka, mungkin tertawa dengan kemarahan antum yang membabi buta,

“Jadilah pema’af, serulah orang untuk berbuat yang ma’ruf, berpalinglah dari orang yang jahil”

Wallahu a’lam,

Abu Arobi


————————————————————————————————————————-

Anda itu tidak fair Pak…

Anda tidak bisa bedakan antara mujadalah (adu argumentasi) dengan kezhaliman. Kalau mau adu argumentasi, ya ayo. Mari kita buka pengetahuan masing-masing.

Ini bukan adu argumentasi, tapi malah membuka-buka masalah pribadi, data-data pribadi, sampai nama isteri dan anak-anak. Antum pernah tahu tidak satu saja ustadz Salafiyun di Indonesia yang dibuka data-datanya sedemikian privacy? Coba sebutkan satu saja. Siapa isteri As Sewed? Siapa anak-anaknya? Dimana isterinya bekerja? Dimana rumahnya dst.

Kemudian ketika pembukaan data-data pribadi itu tidak kena, mereka memfitnah seseorang yang berusaha bermuamalah. Saya kan ada keahlian menulis surat-surat, proposal, dan seperti itu. Alhamdulillah. Apa tidak boleh saya bermuamalah dengan orang lain?

Karena yang saya hadapi masyarakat umum, saya pakai bahasa umum, meskipun tetap menunjukkan komitmen religi. Alhamdulillah. Bahkan urusan ini saya kemukakan dalam e-mail yang bersifat hubungan pribadi, tidak di forum terbuka. Anda baca isi surat penawaran itu, jelas sekali itu bersifat sangat pribadi.

Tetapi oleh syaitan-syaitan itu malah dibukakan ke publik, disiarkan ke umum, dengan label kerjasama “Lintas Agama Lintas Manhaj”. Betapa degilnya akhlak dan pikiran mereka. Hanya syaitan saja yang akan melakukan perbuatan seperti itu.

Hal ini adalah kezhaliman, bukan adu argumentasi. Maka sekalian saja saya kemukakan apa yang selama ini saya simpan. Orang-orang zhalim jangan dihadapi manis-manis, nanti tambah senang mereka.

Kalau Anda merasa “sakit gigi” membaca tulisan2 itu, silakan buka merekaadalahteroris.com! Apa jadinya jika sebenarnya yang layak disebut Khawarij adalah mereka sendiri?

Soal “omongan” Fei Shin, ya silakan saja Antum “ngomong” sesuka hati. Jika Antum berpendirian seperti orang-orang itu, saya tidak ragu menyebut Antum sebagai Khawarij, bagian dari orang-orang yang banyak disebut oleh Rasulullah (Saw).

Trus, tunjukkan bukti-bukti bahwa Rasulullah (Saw) atau dalil Syariat yang membenarkan tentang pelecehan kehormatan seorang Muslim?

Bukankah Nabi (saw) mengatakan: “Al Muslimu alal Muslimu haramun damahu wa maalahu wa ‘irdhuh.” (HR. Muslim).

Apakah saya tidak boleh berdalil dengan hadits tersebut? Apakah hanya Salafiyun yang berhak memakainya?

AMW

wew…ana khawarij yah…..gpp dehh….kl salah kan berbalik ke antum sendiri….,jgn memutuskan suatu ketika marah ga baik…..

ehh pak AMW adakah pernyataan saya yg menuduh antum ginilah gitulah……
antum tidak membenarkan pelecehan seorang muslim tapi knp pernyataan antum bernada pelecehan…….
Stop pak AMW…tahan emosi antum….berfikrilah yg jernih ..jgn krn kesalahan satu orang semua orang dimarahin…..
kl memang benar ana adalah khawarij dan antun ga ragu mengatakannya >>>fei shin muslim seorang khawarij…,tak apalah…..
tapi ana mohon bukti bahwa ana seorang khawarij…
Bukankah dgn menuduh ana khawarij sama saja antum melecehkan kehormatan seorang muslim ,antum dah tau…ini dunia maya…..berapa ratus juta manusia ygmembaca (mengakses) tuduhan antum ke ana bahwa ana adalah seorang khawarij….(sekali lagi ..melecehakn kehormatan seorang muslim )
BUKTIKAN BAHWA ANA ADALAH KHAWARIJ…!!!
JAYALAH DAKWAH SALAF DAN HANCURLAH AHLI BID’AH
Antum ingin memberi tahu kepada semua orang bahwa antumlah yg benar………….( bertolak belakang dengan semboyan jangan merasa benar sendiri )
Monggo sedoyo……
afwan kl agak keras yah…..

Afwan mas AMW,
Ana kira ini diskusi agama (membela agama), sehingga ana bisa mengajak diri ana sendiri untuk berbuat sabar.
Dari ungkapan antum “Anda itu tidak fair Pak…”
Ana kira ini bukan masalah agama, ini masalah pengadilan/pembelaan,
Kata fair = adil, Abu Khawarij juga menggunakan kata yang sama, padahal setahu ana agama itu al-Haq, hanya Allah yang Maha Adil. Nabi pun hanya sebatas “sangat ingin berbuat adil”, tapi Allah berfirman “kamu sekali-kali tidak akan bisa berlaku adil”.
Ana belum punya pengetahuan banyak mengenai agama ini, seorang suku badui hanya tahu Nabi mereka adalah Adam a.s, tapi mereka sangat patuh dengan pimpinan (pu un) dalam segala hal, ya bisa dibilang “Kami dengar dan kami ta’ati”
Ana belajar dari antum-antum yang telah lebih dulu tahu al Haq, sebagai badui Ana hanya bisa berdoa: “Ya Robbana, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.

Barakallahu fik,

Sifat-sifat Khawarij itu banyak. Kalau tidak salah, dalam riwayat Nabi Saw. menjelaskan sifat-sifat khawarij, kalau ada yang sesuai sebagian, berarti cocok dengan mereka dalam beberapa hal itu, meskipun belum Khawarij kaaffah.
Di antaranya mengkafirkan Muslim, tentu secara tidak haq. Nah, Imam Samudra Cs. itu menurut sebagian kalangan salah disini. Ini biasanya berkaitan dengan penerapan hukum Islam.

Tapi selain takfir masih banyak sifat-sifat lain, seperti yang saya sebutkan itu.
Intinya, pelanggaran Khawarij antara lain:
– keluar dari jamaah ummat islam.
– memberontak kepada penguasa ummat islam yang menerapkan hukum islam (sesuai contoh di jaman khulaur Rasyidin dan sesudahnya).
– menghalalkan hak-hak ummat islam yang telah dilindungi Syariat (misalnya darah, harta, dan kehormatan).
– bersikap ghuluw dalam beragama.
– Dll.
Siapa yang ada indikasi disana, ya mereka terkena sifat khawarij. Ada yang kaaffah ada yang juz’iyah (parsial). kita memohon perlindungan kepada Allah dari perilaku Khawarij, secara paarsial maupun seutuhnya. Amin.

AMW

Siapa yang ada indikasi disana, ya mereka terkena sifat khawarij. Ada yang kaaffah ada yang juz’iyah (parsial). kita memohon perlindungan kepada Allah dari perilaku Khawarij, secara paarsial maupun seutuhnya. Amin.

Sifat-sifat Khawarij itu banyak. Kalau tidak salah, dalam riwayat Nabi Saw. menjelaskan sifat-sifat khawarij, kalau ada yang sesuai sebagian, berarti cocok dengan mereka dalam beberapa hal itu, meskipun belum Khawarij kaaffah.

kalimat yang bagus abu, Top AbizzzTop Abizzz

memang sifat manusia ada yang jatuh kepada kesalahan tanpa disengaja, jadi bukan mutlak salah, nah disinilah kelihatan nyata pentingnya ilmu agama ataupun dekat dengan ulama shalih yang diakui keshalihannya (jadi ingat masih jahula)

ada juga sebagian orang yang memang terjatuh kepada kesalahan namun karena alasan2 tertentu susah sekali untuk rujuk.. (saya dapat faidah yang bagus dari akhir2 bab kitab kasfyu syubhatnya syaikh Attamimi) tentang basa-basi …dst

saya juga baru baca syarhussunnah al-barbahari yang memiliki banyak faidah saat terjadi banyaknya fitnah perpecahan terhadap jamaah muslimin

mudahan Allah menambahi kita semua ilmu yang bermanfaat..amieen

No name

Sdr. dan Teman-Teman,

Perkara yang disampaikan Sdr. AMW merupakan perkara sangat ‘pelik’. Dalam perkara ‘pelik’ ini kita kaum muslimin perlu banyak kehati-hatian, apalagi hal itu menyangkut dengan sebagian kaum muslimin lainnya. Di sinilah letak kita harus banyak menimba pelajaran dari para Shahabat RA, bagaimana mengatasi hal itu.

Kisah Imam Hasan RA sebagai cucu Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, merupakan satu sosok yang patut diteladani dengan baik untuk kalangan pergerakan Islam dan para Da’i. Sehingga Rasulullah SAW menjelaskan bahwa cucunya ini akan menyelesaikan masalah sangat besar yang mana akan terjadi pertumpahan darah di kalangan kaum muslimin. Dan terbukti beliau dapat menyelesaikan masalah itu dengan sangat tertib dan damai.

Perkara di atas itu bisa menjadi ‘peluru’ bagi orang yang mampu menjadikan ‘peluru-peluru’ baru untuk kehidupan kita kaum muslimin. Kita jangan mau menjadi pion-pion di atas papan catur, tetapi kita hendaknya menjadi pemain catur. Jika sdr. AMW dan teman-teman ada waktu di bandung, boleh sekali-sekali datang ke tempat kami. Kalau ada di Bandung, infokan pada kami. Kami akan usahakan untuk bertemu, Jum’at s/d Minggu di Bandung.

Terimakasih,
http://usahadawah.com (Madrasah Da’wah dan Islam)
http://jamrud.com (Jamrud..NEWS)
http://kolom.jamrud.com (Kolom Pakar)

Haitan

Teman-Teman,

Kita akan sulit mudzakarah dalam suasana ini. Kita jangan kalah dengan iklan yang menarik di TV, ketika seorang pemuda mau makan baso, ada yang menyenggolnya, dan basonya terjauh. Kemudian ketika akan makan lagi, tersenggol lagi oleh orang yang melalui di belakangnya. Dan nampak benar marahnya, tetapi oleh kedua temannya ditempelkan air dingin di di dadanya, maka hilanglah marahnya itu. Iklan itu kelihatannya lucu, tetapi itu sebenarnya memberikan pelajaran juga.

Pernah membaca kisah Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, mengundang semua keluarganya termasuk Abu Jahal untuk makan. Yang mana beliau sebenarnya akan menda’wahkan agama yang mulia ini. Dan beliau selalu melakukan begitu untuk da’wah itu, dan pernah ada seorang yang selalu melempar dengan kotoran dari rumahnya kalau beliau lewat. Satu ketika beliau ini tidak dilempar, kemudian jadi bertanya-tanya. Dan ternyata orang yang selalu melempar itu sedang sakit. Maka Rasulullah SAW menyiapkan makanan untuk hadiah. Dan ternyata dengan akhlaq yang mulia ini, maka orang itu masuk Islam.

Jadi coba deh kita kumpul dan mudzakarah, ya sambil minum teh dan kopi. Ini merupakan Sunnah Nabi Muhammad SAW dan juga para Shahabat RA, dan kami menemukan banyak kisah ini dalam kehidupan beliau-beliau yang mulia. Jadi kita biasakan kembali hal ini.

Jika mau, silahkan datang ke tempat saya. Dulu sih banyak dari macam-macam pergerakan Islam, termasuk juga dari teman-teman salafi. Kamu tunggu, termasuk Pak AMW juga. Silahkan kirim email ke tempat saya, haitan.rachman@gmail.com.

http://usahadawah.com (Madrasah Da’wah dan Islam)
http://jamrud.com (Berita-berita Indonesia Jamrud Katulistiwa)
http://kolom.jamrud.com (Kolom Pakar Indonesia Jamrud Katulistiwa)

egala puji bagi Allah, Shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam, keluarga, shahabat dan siapa saja yang mengikuti jalan mereka.

Pada suatu hari saya terlibat masalah dengan seorang Ustadz tokoh Muhammadiyah. Sebutlah Drs X. Pasalnya, saya mengkoreksi bacaan Al Qur’annya yang keliru. Mungkin karena sesuatu hal atau lainnya, akhirnya Drs X mengkoreksi sikap salafi, terjadi dialog via sms, dan akhirnya kami janji mau ketemu. Sebelumnya saya meminta nasehat kepada Al Ustadz Yuswaji (penerjemah buku “Membongkar Kedok Yusuf Qaradhawi” dll) tentang apa yang harus saya lakukan. Dijawab oleh beliau kurang lebih bahwa kita harus bersikap sopan, menghormati kedudukannya sebagai orang tua, berusaha mengalihkan hal-hal yang bisa memperruncing keadaan dan melihat dari sisi mana ketertarikannya dengan da’wah salaf. Memang, sekalipun tidak ‘ngaji salafi’, Drs X terkadang bincang-bincang tentang masalah agama dengan ikhwah salafi. Akhirnya kamipun bertemu. Saya yang lebih muda terlebih dahulu meminta maaf apabila ada kesalahan dalam ucapan. Respeknya baik. Hubungan kami juga terjaga. Dalam kesempatan yang lain Drs X menanyakan atau ‘titip tanya’ tentang masalah Zakat yaitu tentang 8 asnaf apakah harus dibagi rata atau bagaimana… Tentu ini sebuah kemajuan. Bayangkan apabila ketika ketemu saya katakan,”Anda ini cecunguk hizbiyah, bubarkan aja organisasimu…”. Bisa jadi pengajian Drs X akan dipenuhi dengan hujatan dan menjelek-jelekan salafi, ujung-ujungnya da’wah salaf akan terhambat (padahal alhamdulillah mereka banyak yang tertarik dengan da’wah salaf, lewat buku, majalah, radio dsb).

Dalam sebuah kajian kitab Syarhus Sunnah, Al Ustadz Abdullah Syahroni memaparkan permasalahan da’wah. Diantaranya sebuah kisah yang disampaikan oleh Syaikh Rabi’ hafidzahullah tentang seorang Syaikh dalam da’wahnya. Ketika Syaikh ini sedang berda’wah, ada seseorang (tokoh penentang) yang memukulnya. Syaikh ini dipukul kemudian pingsan dan orang yang memukul diamankan oleh murid-muridnya diserahkan kepada keamanan. Orang yang memukul itupun langsung ditahan. Ketika Syaikh tadi siuman, yang pertama ditanyakan adalah “Dimana orang yang memukulku tadi?”. Ketika dijawab bahwa orang itu sudah dipenjara, Syaikh tersebut menyesalkan kenapa harus dipenjara. Akhirnya Syaikh yang tadi dipukul itu membantu membiayai keperluan keluarga orang yang mukul tadi (karena dipenjara sehingga nggak bisa bekerja). Demi mengetahui kebaikan Syaikh, orang yang memukul Syaikh tersebut selepasnya dari penjara menjadi murid setia Syaikh karena keteladanannya…
Mengomentari kisah tersebut, Syaikh Rabi’ memberi nasehat kepada salafiyyin kurang lebih sbb:”Yang saya harapkan dari kalian tidak sejauh itu. Cukuplah dari kalian sedikit saja kesabaran dan sedikit saja rasa kasih sayang menghadapi masyarakat awam…”
Maksudnya tentu tidak secara harfiah. Bahwa salafiyyin sekarang ini harus benar-benar menunjukkan kesabarannya dan kasih sayangnya menghadapi masyarakat muslim yang mayoritasnya awam dalam agama…
Al Ustadz Abdullah Syahroni juga menceritakan pengalaman da’wahnya di Poso yang mirip-mirip kisah tadi, dimana ada tokoh hizbiyyah yang memukulnya tetapi disikapi dengan baik akhirnya malah menjadi tokoh pembela da’wah salaf…

Dalam sebuah dialog via telephon, saya meminta masukan kepada Ust Ahmad Yuswaji, tentang adanya orang-orang yang banyak melaknat dan mencerca dalam forum diskusi, dengan kata-kata “cecunguk partai” misalnya. Maka beliau katakan kurang lebih bahwa hal itu tidak perlu. Cukup kita katakan,”Mereka adalah sebagian dari saudara kita yang masih tenggelam dalam partai…”. Beliau mengisahkan bahwa cercaan, makian, dan hinaan juga banyak beliau terima dulu, terlebih ketika habis mengiklankan buku,”Membongkar Kedok…”. Tapi rata-rata makian yang “tabrak lari”, enggan berdialog. Ust Yuswaji menyampaikan bahwa apabila belum-belum udah menyampaikan kata-kata kasar, maka orang yang diajak diskusi bisa jadi akan memberikan cacian yang lebih besar lagi dan lebih keras permusuhannya.

Demikianlah ikhwah fillah. Kita perlu mengingat masa-masa dulu ketika kita masih belum mengenal da’watul haq. Mungkin dulu ada yang ikut ‘tarbiyah’, dan sudah merasa “syamil” dan “kamil” mempelajari Islam lewat murrabi, diajak bai’at, ukhuwwah kelompok yang begitu mesra, dengan tumpukan buku dari para ‘mujahid’ dan akhirnya diajak masuk partai tertentu dengan niatan jihad… Mungkin dulu ada yang sudah merasa berislam dengan baik dengan menenteng kompor ke masjid-masjid dengan kebodohan khuruj sekian hari-sekian hari…Mungkin dulu ada yang pernah ikut kelompok yang semua bahasan agama diarahkan kepada bahasan “Khilafah”… Masa-masa gelap itulah yang mungkin pernah kita alami, dan sekarang sedang banyak dialami oleh saudara kita yang lain. Kasihanilah mereka, do’akan mereka. Tidak mustahil kalimat haq yang kita ucapkan dengan penuh keikhlasan dan kelembutan akan membekas dihati mereka dan menjadi awal dari hidayah menuju al haq. Tugas kitalah menda’wahkan manhaj salaf dengan lembut, dialog dengan sebaik-baiknya dan menjauhkan diri dari perdebatan yang tercela. Tugas kita juga menunjukkan penyimpangan dibalik sikap ‘lembut’ dan ‘bijak’ dari kaum hizbiyyin. Tugas kita menjelaskan kapan harus berbahasa tegas dan keras, kapan harus bersikap lembut dan ramah. Jika da’wah sudah kita sampaikan dan dia menolak, berarti kita cap dia sebagai “musuh da’wah salaf”? Eit tunggu dulu. Bisa jadi didepan kita menolak, tetapi di belakang dia sebetulnya tertarik, atau dalam proses ketertarikan kepada kebenaran. Contoh kasus:

Ada ikhwan yang mengelola radio komunitas salafi. Banyak kaum muslimin yang akhirnya ngaji salafi dan banyak pula yang akhirnya mengenal Islam dengan lebih baik. Ada pengikut Qiyadah Islamiyah (yang mengakui Rasul baru) alhamdulillah sadar ketika mendengar siarannya yang membahas itu. Ada yang tadinya nggak menutup aurat kemudian alhamdulillah Allah membukakakan hatinya untuk memakai. Ada akhwat yang bercerita bahwa tetangganya menentang da’wah salaf (secara lahir). Tetapi ternyata dia rajin mendengarkan siaran da’wah radio salafi. Maka kesimpulannya, orang yang di depan kita nampak ‘sombong’ tidak mesti bener2 menentang. Bisa jadi karena kita yang dalam pandangannya banyak kesalahan/kekurangan. Bisa jadi karena dia sebetulnya sedang mencari dan sudah menemukan bahwa da’wah salaf itulah yang haq, tetapi masih malu mengungkapkannya atau bisa jadi ada beberapa hal yang sebetulnya ingin ditanyakan.

Kasus lain. Al Ustadz Tsanin mengelola pondok pesantren di dekat rumahnya. Seorang tetangganya aktif di sebuah organisasi Islam. Nggak pernah satu kalipun tetangganya ini, sebutlah si Fulan, hadir di pondoknya ndengerin kajian Uts Tsanin. Nah Ustadz Tsanin ngisi di sebuah masjid. Pesertanya banyak dari organisasi ini (karena disekitar masjid dan pengurus masjid banyak yang dari organisasi tsb). Tetangganya ini mau hadir di masjid tsb ikut kajian, dan dia ini rajin mengikuti kajiannya, padahal jaraknya lebih jauh berlipat-lipat daripada ke pondok. Heran kan, yang jauh mau tapi yang dekat enggak. Itulah. Manusia itu bertingkat-tingkat dan berbeda-beda dalam ketertarikannya dengan da’wah salaf. Nggak mau ngaji bisa jadi karena gengsi atau malu Jadi, nggak bisa kita hantam kromo.

Oleh karena itulah kita harus berhati-hati benar dalam bersikap dan berda’wah Jangan sampai sikap kita menjadi penghambat hidayah kepada seseorang.

Tips biar kita nggak bebas bas dalam berbicara atau menulis:
-Perhatikan obyek da’wah kita, pahami bahwa mayoritas yang kita hadapi adalah awam.
-Jika yang kita hadapi orang berilmu dan nyata menyimpang, perhatikan manfaat dan mudlorot dari bergaul dengannya. Jika takut tergelincir, mending jauhi.
-Jika yang kita hadapi mengeluarkan sikap menentang, jangan segera divonis. Tidak mesti apa yang disampaikan perwujudan dari hatinya. Bisa jadi ada titik-titik hidayah yang perlu kita pompa dan cerahkan.
-Kalau menulis di forum diskusi, jangan langsung menulis kemudian kirim. Endapkan dulu, save dulu. Selang beberapa waktu baca lagi, udah tepat belum? Jangan sampai ada hawa nafsu yang memasuki tulisan kita.
-Jangan ‘keburu nafsu’ untuk segera membalas orang yang menjelek-jelekan kita diforum diskusi. Perhatikan ilmiah apa enggak. Kalau mau membales, bales dengan yang lebih baik lagi, misalnya dengan mendo’akan kebaikan dan diingatkan kekeliruannya. Kalau mau membantah juga bantahlah dengan cara yang baik. Tetap dibaca dulu berulang tulisannya.
-Jika kita berbuat kesalahan, akui dengan jantan, itu lebih baik daripada muter-muter dan bersikap plin-plan yang menunjukkan kita bukan mengedepankan al haq.
-Lebih baik Anda menulis siapa Anda dengan jelas. Soalnya kalau kita sebagai ‘orang dibalik cadar’, nggak jelas sapa namanyai dan darimana, biasanya kita merasa bebas bicara dan akhirnya bebas pula mencaci dan memaki. Tapi kalau kita jelas orangnya, kita merasa sedang dihadapan obyek da’wah sehingga lebih menjaga diri. Kita juga bisa bilang,”Inilah aku, kamu siapa?”

Wallahu a’lam bisshawab.

6 Tanggapan

  1. assalamu alaikum, kepada seluh saudaraku salafiyyun, siapapun antum, dimanapun antum ngaji, saatnya kita semua ruju’ kepada kebenaran. tinggalkan segala kebencian, caci maki, permusuhan dasb. mari kita merajut ukhuwah diatas Al-Kitab Wassunnah. kita semua adalah thullab, penuntut ilmu, ustadz-ustadz salafy adalah manusia biasa. apabila mereka melakukan suatu kekeliruan, tidak sepatutnya kita sebarkan kekeliruan itu. kalau ada yang berbeda dengan pemahaman kita atau ustadz kita, maka jangan segera membuat pernyataan, bantahan, ataupun serangan balik. tetapi yang pertama yang harus dilakukan adalah MUHASABAH ‘ALAN NAFS. tetaplah berprasangka baik kepada setiap ulama, ustadz kita. bagi ana tidak ada yang lebih membahagiakan ana kecuali seluruh ustadz salafiyyin di negeri ini bersatu diatas manhaj yang haq ini.
    kepada saudaraku salafiyyun, mari kita membangun cinta dan kasih sayang diatas sunnah, saling menolong, menasehati dengan cara yang ma’ruf, seburuk-buruknya seorang salafy, jauh lebih baik daripada seorang mubtadi’, hizbiy, atau ahlul ahwa’. tidak sepatutnya celaan, cacian, makian dan kata-kata kasar ditujukan kepada mereka. berharaplah bahwa siapapun saudara kita salafiyyun yang tergelincir kedalam kekeliruan, lebih mudah untuk ruju’ kepada kebenaran dibanding selainnya. ikhlashkan doa kepada Allah SWT semoga suatu saat mereka beroleh kebaikan, hidayah dan kemuliaan.

    JAWABAN:
    Saudaraku Al-Bugisy:
    Sebaiknya dakwah memang dilandasi atas ahlaqul karimah, sehingga tidak mengedepankan ego dan bersifat menyerang kiri-kanan. Dakwah juga harus dengan niat ihlas semata-mata karena Alloh SWT. Ilmu dalam dakwah memang keharusan dan mutlak dibutuhkan, namun harus tetap disertai dzikir. Ilmu tanpa dzikir hanya akan menyebabkan keangkuhan, kesombongan dan seperti pisau yang selalu diarahkan pada orang lain. Sedangkan ilmu yang disertai dzikir, akan menyebabkan pemiliknya tawadhu’ selalu merasa dirinya fakir akan ilmu dan digunakan untuk memperbaiki amalan-amalannya dengan menghindarkan diri dari menusuk-nusuk orang lain. Ilmu yang digunakan untuk menusuk orang lain lama kelamaan akan berlumuran darah dan bau anyirnya akan terasa dimana-mana. Itulah ilmu yang tanpa dzikir, tanpa tawadhu, tanpa ihlas, baunya anyir kemana-mana. Jazakumulloh

    Abu Izza Adduri

  2. Assalamu’alaikum wr wb,
    Semoga antum sudah mendamaikan mereka.
    Barokallahu fiik.

  3. yang perlu di ketahui oleh semua saling menghargai ketika ada masalah yang memang terdapat perbedaan ulama padanya,Jangan sampai saling tuduh keluar dari salaf,atau paling salafy hanya karna masalah yang bukan pokok.Walaupun kita tidak sependapat denga orang lain tapi perlu kita hargai alasanya,jika kita tuduh sesat mereka,mereka pun mempunyai alasan yang sama untuk menuduh kita sesat juga..Jadi jangan saling menyesatkan kalo tidak kepada yang benar benar sesat…Hindari salig caci maki,jangan membatasi diri kepada ulama yang menurut sangkaan paling salaf sehingga di kira pendapatnya dari A sampai Z betul semua itu alamat kejumudan.Bersikaplah yang lapang terhadap perbedaan pendapat ….jika benar benar mendakwahkan Tauhid mestinya bersatu menumbangkan kesyirikan…..mendirikan negara islam…..jangan merasa paling salafi…..menyesat nyesat orang berpartai..,berorganisasi dsbnya..kecuali kalo memang benar benar sesat……..dan yang penting lihat qs al imron 31……

  4. marilah kita kembali ke da’wah para rosul,seluruh utusan ALLOH SWT…… MEMURNIKAN KETAATAN HANYA KEPADA ALLOH SWT, sebutlah seseorang MUSLIM bila ALLOH SWT menyatakan MUSLIM, dan katakan KAFIR bila ALLOH SWT juga menyatakan KAFIR!!!! TIDAK SELAMANYA MENGKAFIRKAN ITU ADALAH SEBUAH KESALAHAN!!!! ALLOH SWT DAN ROSULULLOH SAW memerintahkan kepada kita untuk tidak sembarangan, berhati-hati dalam mengkafirkan!!! TETAPI BILA REALITA KEKAFIRAN TELAH NYATA…. MAKA JANGAN RAGU UNTUK MENGKAFIRKANNYA!!!!!!!!!!!!!!

  5. Aslmkm.
    saya sering baca tulisan2 di situs2 salafi. Banyak yang bagus. Cuma beberapa tulisan menggelitik saya. Kok salafi menentang gerakan seperti ikhwanul muslimin, HTI dan Tabligh? Saya kemudian mempelajari gerakan2 ini. Ternyata ikhwanul muslimin, HTI dan Tabligh memiliki tujuan akhir yang sama, yakni terbentuknya kekhalifahan, namun metodenya berbeda.
    Kenapa salafi menentang gerakan2 yg bertujuan menegakkan kekhalifahan?
    Saya kemudian menelusuri sejarah gerakan salafi!
    Ringkasnya, salafi adalah gerakan yang disponsori oleh pemerintah Saudi Arabia yang dipimpin oleh Bani Saud (sehingga negara ini disebut Saudi Arabia). Dalam Islam sebenarnya tidak ada sunnah ada negara apalagi negara kerajaan, yang notabene kekuasaan berlaku turun temurun.
    Beberapa negara timur tengah yang juga negara kerajaan juga ikut menseponsori gerakan salafi.
    Kenapa kerajaan Saudi dan kerajaan Islam timur tengah lain menseponsori gerakan salafi? Jawabannya mudah saja, untuk menghambat terbentuknya kekhalifahan. Sebab kalau kekhalifahan segera terbentuk, tidak ada lagi yang namanya kerajaan Saudi Arabia, dan otomatis Bani Saud akan lengser. Begitu juga kerajaan timur tengah lainnya.

    Kalaupun Salafi menggunakan senjata utama “bid’ah” untuk “menyerang” gerakan lain, sebenarnya negara-negara pendukungnya sedang melakukan bid’ah, karena islam tidak mengenal negara kerajaan.

  6. Mengelompokkan umat Islam memberi label, menjudge bahkan mencela kelompk lain adalah haram, bahkan membuat kelompok2 islam x, y, z, sangat tidak sejalan dengan dakwah Rasulullah dan sangat2 bid’ah, Islam adalah ummat yang satu.
    Saat ini umat islam sudah sangat terpuruk, mari bangkit kuasai eknonomi, teknologi, media dan infrastruktur kehidupan yg saat ini semua dikuasai orang kafir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: