KH Tengku Zulkarnain: Umat kehilangan tanggung jawab dakwah, JT membangunkannya

Bagi sebagian orang, ulama yang satu ini cukup populer. KH Tengku Zulkarnaen memang mudah dikenali karena kerap mengisi acara ceramah dan siraman rohani di layar kaca.

Gaya bicaranya lugas dan tegas terutama bila menyangkut permasalahan yang tengah dihadapi umat. Maka tidaklah mengherankan ketika Ketua Umum Mathla’ul Anwar ini diminta komentarnya seputar gerakan dakwah di sela Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) beberapa waktu lalu, dengan terus terang, mengemukakan pendapat dan harapannya untuk kemajuan bidang dakwah Islamiyah.

Menurut dosen Fakultas Sastra USU Medan jurusan Lingustik Inggris ini, problem utama dakwah di tanah air, selain masalah rutin semisal lemahnya strategi dan konsep dakwah, adalah kurangnya sifat dakwah pada umat. Padahal kata dia, dakwah bukan cuma tanggungjawab dan urusan ormas Islam dan lembaga formal keagamaan, tetapi juga umat secara keseluruhan.

Inilah yang coba diutarakannya dalam KUII kemarin seraya harapan bahwa fokus dakwah hendaknya juga diarahkan pada upaya penyadaran akan pentingnya menumbuhkan sifat dakwah tersebut. Sebuah upaya yang bila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, akan membawa keberhasilan. Berikut petikan wawancaranya:

Apa saja masalah krusial yang dihadapi gerakan dakwah dewasa ini?

Jelas banyak sekali. Mulai dari strategi maupun konsep dakwah yang sekiranya perlu dibenahi, belum tercapainya sinergi antara ormas Islam dan lembaga Islam, dan masih banyak lagi. Namun menurut saya, satu permasalahan terbesar yang kita hadapi adalah hilangnya sifat dakwah dari sebagian umat.

Semua orang Islam wajib berdakwah. Begitu masuk agama Islam, kita wajib menyampikan kebenaran Islam kepada orang lain. Ibarat orang yang selama ini buta, kemudian matanya dioperasi hingga bisa melihat keindahan dunia, terus apa yang harus dia perbuat. dia harus berpikir supaya orang buta dapat dioperasi dan bisa pula menikmati indahnya dunia. Dia dapat berbuat apa saja yang dia bisa lakukan untuk membantu.

Jadi pada intinya dakwah ini beda dengan taklim. Kalau mengajar memang perlu ulama dan orang alim, tapi mengajak orang kepada kebaikan tidak perlu orang alim, asal dia tahu ilmu agama dia bisa memberikan pengetahuannya untuk orang lain pula. Contohnya saja adzan adalah seruan yang sempurna, bolehkah anak kecil mengumandangkan adzan? Jawabannya boleh saja, walaupun dia tidak alim. Dengan begitu Islam dapat membuktikan bahwa dakwah adalah kerja semua umat.

Selama ini telah terjadi salah persepsi di masyarakat mengenai esensi dakwah?

Betul dan itu terjadi karena kita selama ini tidak bisa membedakan dakwah dan taklim tadi. Padahal di masjid Nabi sejatinya ada empat amalan; dakwah, taklim, ibadah, dan hikmat. Intinya kita menggunakan diri dan harta kita untuk sebanyak-banyaknya mengenalkan agama Islam kepada seluruh dunia.

Kta lihat, orang di Eropa kalau sudah masuk Islam, dia akan berubah total. Pribadinya berubah, pakaiannya berubah juga cara bicaranya. Sehingga ketika setiap dia ditanya kenapa berubah, dia akan langsung berdakwah. Islam-lah yang telah mengubah saya. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan dewasa ini kita saksikan percepatan pertumbuhan Islam di Eropa begitu tinggi yang salah satu sebabnya karena setiap orang mendakwahkan agamanya. Di Indonesia tidak. Kita kalau mengajak orang kepada kebaikan seolah malu, kita lebih senang mengajak orang untuk makan siang.

Bagaimana untuk mengubah persepsi itu?

Ya harus terus disadarkan, dan saya kira tidak terlalu sulit. Kita lihat misalnya Jamaah Tabligh di Jakarta, mereka yang mantan pelaku kriminal diberi siraman rohani selama tiga hari, Alhamdulillah selanjutnya orang tadi berubah total dan mengajak yang lainnya untuk masuk ke dalam Islam yang sebenar-benarnya. Sebenarnya tidak terlampau sulit, asal ada niat serta kemauan saja. Makanya kalau setiap umat Islam di Indonesia sudah menjadikan sifat dakwah menyatu dalam diri, maka Islam di tanah air tidak akan merosot jumlahnya bahkan kian berkembang di masa depan.

Lantas tantangan dakwah yang perlu dicermati ke depan?

Sebenarnya banyak sekali; arus globalisasi, kiprah kelompok non-Islam, dan orang-orang yang hanya ingin mengeruk keuntungan duniawi. Ini semua tentu musuh kita. Tapi sebetulnya itu tidak berpengaruh sama sekali bila di dalam diri kita kuat melaksanakan sunnah Islam. Kata nabi, perumpamaan orang yang selalu mengingat Allah itu orang yang hidup dan orang yang tidak ingat Allah itu adalah orang yang mati. Kenapa Nabi menyinggung hidup dan mati, karena benda hidup tidak dipengaruhi oleh lingkungan. Contohnya ikan di laut direndam air garam 5-10 tahun kita makan dagingnya kan tidak terasa asing, tapi bila ikan itu sudah mati kita rendam dengan air garam selama dua jam, baru terasa asin.

Kita sebenarnya tidak terlalu risau dengan masalah eksternal umat, asalkan kita mampu mengamalkan ajaran agama 100 persen. Maka dari itu, kita hendaknya mengamalkan cara nabi saja. Kalau kita hidupkan sunnah, makan, tidur, bertutur kata dan sebagainya dengan cara nabi niscaya akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam penyelenggaraan KUII, juga dicermati masalah pemurtadan serta pendangkalan akidah?
Ini sebenarnya problem lama. Dulu yang seperti itu dinamakan mu’tazilah, dan itu sejak zaman dahulu memang sudah muncul bahkan sepeninggal Rasulullah sudah ada. Mu’tazillah adalah memahamkan ajaran Islam menurut akalnya. Kalau bertentangan dengan akalnya, dia tidak menganggap teks Alquran maupun hadis sebagai sesuatu yang valid. Ini jelas kesalahan fatal. Tidak ada tradisi memahamkan Alquran itu dengan akal. Itu hanya pengaruh dari para ilmuwan-ilmuwan Barat. Dalam salah satu hadis nabi disebutkan bahwa barang siapa yang menafsirkan Alquran menurut akalnya, nanti kedudukannya dalam neraka. Maka apa yang dilakukan para sahabat mereka memahamkan Alquran dari nabi, bertanya kepada nabi, melihat sikap nabi, dan melihat perilaku nabi. Menurut hemat saya, orang-orang mu’tazilah ini justru patut dikasihani. Dia berpegang pada sains sehingga agama harus tunduk pada sains, padahal sains senantiasa berubah. Kebalikannya, Alquran dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah. Lantas mengapa paham mu’tazilah ini bisa berkembang, hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa kita belum sepenuhnya mengamalkan sunnah nabi sehingga kita menganggap apa-apa yang terdapat dalam Alquran dan hadis bukan sebagai kebiasaan hidup kita.

Apa yang harus dilakukan dalam waktu dekat?

Betulkan akhlak umat. Kalau sudah betul maka hal-hal yang merusak akan dibuang. Termasuk juga mu’tazilah akan dibuang orang dan bakal kembali kepada Alquran dan sunnah. Dakwah harus difokuskan pada sasaran tersebut yakni memperbaiki akhlak dan mengembalikan pada kebenaran. Seperti saya sampaikan tadi, ini tugas kita bersama, bukan hanya ormas Islam, lembaga Islam melainkan kewajiban serta tanggungjawab seluruh umat untuk mendakwahkan Islam.

 

2 Tanggapan

  1. sudah saya tunggu jew postingannya..

  2. as. ust. maunanya kapan ustan nisopnya pengen bareng saya tat, biar nimba ilmu.maaf tat wasalam

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: