Liano Regar, Mualaf Dalam Bimbingan JT

Nama saya Liano Regar. Liano adalah nama baptis saya, sedangkan Regar adalah nama fam atau marga kami yang berasal dari Manado. Saya lahir pada 9 juli 1973. Saya anak kedelapan dari 11 bersaudara. Dari daerah asal saya saja, sudah dapat diduga apa agama saya.

Saya dibesarkan di lingkungan agama Kristen Protestan. Kerabat saya dari pihak ibu banyak yang menjadi pendeta. Dari merekalah saya mengenal ajaran Kristen Protestan. Mereka mendidik saya dan kakak-kakak saya agar kelak menjadi penganut agama yang taat. Rumah kami persis di depan gereja. jadi, secara tak langsung menjadi tempat pendidikan saya.

Harapan orang tua kepada saya sempat pupus, ketika saya terjerumus menjadi pelaku tindak kriminal di lingkungan kami tinggal. Saya lebih dikenal sebagai pemabuk dan pengguna obat-obatan terlarang (narkoba). Di lingkungan kompleks, saya sempat dijuluki sampah masyarakat, karena ulah saya yang sangat meresahkan warga. Oleh pihak Koramil, saya sudah dianggap musuh utama.

Orang tua saya, tentu sangat kecewa dengan ulah saya itu. Mereka menyarankan agar saya menghentikan perbuatan-perbuatan negatif itu. Bahkan, mereka menawarkan saya untuk menjadi pengurus dan aktivis gereja, dengan harapan agar saya sadar dan dapat mengubah sikap. Tawaran itu saga turuti. Singkat cerita, resmilah saya menjadi pengurus dan aktivis gereja. Di sanalah saya dapat kembali berinteraksi dengan para jemaat dan pendeta. Mereka sangat senang dengan perubahan saya itu dan berharap agar saya kernbali menjadi hamba Tuhan yang taat.

Ingin Masuk Islam

Harapan orang tua saya kembali pupas untuk yang kedua kaliya, saat saya menyatakan diri ingin masuk agama Islam. Harapan agar saya menjadi penganut agama Kristen Protestan yang taat hanya tinggal harapan. Saya sudah memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Ceritanya begini. Suatu ketika saya menonton televisi di sore hari. Kebetulan, saat itu azan magrib tengah disiarkan. Secara sadar saya mendengar azan dan memperhatikan terjemahannya. Mata saya segera menangkap terjemahan kalimat azan yang berbunyi. “Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

Saya tertegun dengan terjemahan kalimat-kalimat azan itu. Sebab, dalam agama kami ada ajaran yang menyatakan, “Tuhanku adalah Allah dan Nabi Isa sebagai nabi utusan Allah.

Lalu, kalimat itu saya tuliskan besar-besar dalam buku doa yang ada di gereja, dekat meja pendeta. Walaupun saya seorang Kristen, saya secara tak radar mengakui Muhammad sebagai nabi utusan Tuhan.

Setelah itu, saya juga bermimpi disunat (dikhitan). Yang saya tahu sunat itu hanya ada dalam ajaran agama Islam. Untuk meyakinkan itu, saya bertanya pada teman saya yang beragama Islam. Mereka mengatakan bahwa sunat itu hanya dilakukan oleh orang Islam Kepada mereka juga saya ceritakan mimpi saya itu. Mereka kaget, tapi tak berkomentar apa-apa.

Kepada pendeta juga saya ceritakan mimpi itu dan perihal penggantian kalimat terjemahan yang ada dalam ajaran Kristen. Pendeta dan pengurus gereja marah-marah. Mereka tak menerima mimpi dan terjemahanku itu.

Kejadian itu juga saya ceritakan kepada ibu. Kepadanya, saya memohon agar saya diizinkan untuk memeluk Islam. Mendengar cerita dan permohonan saya itu, ibu langsung menangis. Berat rasa hati ibu memberikan izin. Sebab, saya adalah anak yang diharapkan oleh ibu menjadi penganut agama Kristen yang taat. Ibu sangat menaruh harapan kepada saya. Saya tahu ibu sudah kecewa dengan masuk Islamnya beberapa kakak saya.

Karena ibu terus menangis, akhirnya saya biarkan saja. Setelah tangis beliau reda, saya pancing dengan pertanyaan, “Apakah ibu kecewa jika saya masuk agama Islam?” Dengan berat hati ia menggelengkan kepala. “Terserah kamu. Jika itu pilihan kamu yang terbaik. Tetapi, kamu harus menjadi lebih baik dari yang sebelumnya,” kata ibu.

Mendengar jawaban ibu seperti itu, saya sangat gembira. lni berarti ibu memberikan izin kepada saya untuk pindah agama dan berharap saya menjadi penganut agama Islam yang baik dari agama yang sebelumnya. lbu juga berpesan, jika kelak saya mengucapkan syahadat agar dilakukan di masjid di luar kompleks. Sebab, takut ketahuan warga kompleks yang beragama Kristen, terutama yang menjadi pengurus gereja.

Untuk pesan ibu yang terakhir ini, saya sengaja abaikan. Sebab, saya ingin menjadi seorang muslim. AAkhirnya, keinginan itu saya utarakan kepada teman-teman aktivis Masjid Baitus Salam. Oleh mereka, saya disarankan untuk latihan mengucapkan syahadat yang dlbimbing oleh Ustad KM. Hadi. Dalam proses uji coba itu, saya lancar mengucapkannya.

Dua hari kemudian, bertepatan dengan Idul Adha tahun 1995, saya menyatakan diri menjadi seorang muslim. Dengan disaksikan teman-teman aktivis masjid dan dibimbing oleh Ustadz H.M. Hadi, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Nama saya segera diganti menjadi Muhammad Ismail.

Perpindahan saya menjadi seorang muslim, menimbulkan kegegeran di lingkungan gereja. Sebab, saya adalah pengurus dan aktivis gereja. Mereka sangat marah dan kecewa dengan keputusan saya. Mereka menyarankan agar ibu says mencarikan kontrakan bagiku. Tujuannya, agar ibu tidak terpengaruh oleh saya.

Sikap mereka pada saya juga sangat sinis dan curiga. Bahkan, mereka sengaja menjauhkan saya dari pergaulan, terutama dengan anak-anak mereka. Tujuannya, agar anak-anak mereka tidak dipengaruhi untuk masuk Islam. Saya hadapi sikap mereka dengan tenang dan saya tidak menganggap mereka itu musuh, apalagi mempengaruhi mereka masuk Islam.

Setelah beragama Islam, saya ingin menjadi penganut yang balk. Saya belajar shalat dari orang-orang. Saya belajar membaca surah al-Faatihah dari teman kerja, M. lkhsan namanya. Teman-teman aktivis remaja masjid juga memberikan pelajaran agama kepada saya. Ada satu hal yang menjadi pedoman saya dalam beragama Islam, yaitu shalat tepat waktu. Saya tidak ingin menunda-nunda shalat.

Karena tak ingin menunda shalat, saya pernah beberapa kali keluar kerja. Masalahnya, pimpinan di tempat saya bekerja selalu menghalang-halangi saga untuk melaksanakan shalatwajib. Mereka selalumenunda-nunda waktu buat saya, padahal mereka juga beragama Islam. Saya heran dan kecewa. Namun pada prinsipnya, saya tidak ingin menunda shalat.

Untuk memantapkan rasa keimanan, saya kini aktif menjadi jamaah pada pengajian Jamaah Tabligh Kebun jeruk. Dari pengajian ini, saya banyak mendapat bimbingan keagamaan. Saya ingin agar pesan ibu untuk menjadi penganut Islam yang taat menjadi kenyataan (Maulana/Albaz – dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/)

Sumber: Mualaf Online Center http://www.mualaf.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: